Minggu, 22 April 2012

Ayah Yang Mendua Cinta

  Entah apa kekurangan ibu dimata ayah, setahuku Beliau adalah wanita yang ku kagumi. Tanpa tanding. Dan kasih sayangnya tak akan aku dapatkan dari wanita lain. Ibu tampak tabah dan sabar melayani dan menghadapi sikap  ketidak adilan ayah.
  Setiap ayah pulang kerumah , ibu selalu menyambut dengan senyuman termanis ibu, dan hidangan kesukaan ayah pun telah ibu persiapkan. Hingga air mandi hangat pun ibu siapkan walau harus menimba air disumur dimalam hari, Ibu selalu setia pada ayah.
Entah bagaimana awal kisah , hingga ayah menikah lagi. Yang kutahu saat pernikahan ayah yang kedua ibulah yang menjadi walinya. Aku sungguh tak mengerti dengan pemikiran ibu. Yang jelas ibu tidak pernah menganggap istri muda ayah sebagai orang lain. Ayah pun kini jarang sekali berkunjung kerumah ibu, Setiap pulang bekerja ayah selalu menghabiskan waktu untuk sang istri muda. Bahkan ibulah yang sering mengunjungi mereka. Apalagi istri muda ayah kini sedang hamil. Ibu hampir setiap hari mengunjungi mereka, Bahkan membantu-bantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.Memasak bersih-bersih, hingga cuci dan setrika baju.
  Pada waktunya istri muda ayah telah melahirkan. Pada waktu itu kami masih duduk dibangku SD Aku dan adiku Indri serta kakakku Anton. Kami memiliki perbedaan umur masing-masing 2 tahun. Ibu memutuskan untuk merawat bai yang baru lahir dan masih merah itu, Dan sebagai gantinya kami bertiga harus tinggal dirumah istri muda ayah, dan hari-hari kami dipenuhi dengan peraturan-peraturan undang-undang yang dibuat oleh ibu tiri kami. Istri muda ayah benar-benar berkuasa. Uang belanja jatah ibu dari ayah pun istri muda ayah yang mengaturnya. Tapi ibu tidaklah mengisahkan akan hal itu, Ibu tetap merawan bayi itu dengan kasih sayangnya, walaupun bukan anak kandung sendiri.
  Lalu benerkah ibu menerima ketidak adilan ayah? Secara lahir mungkin begitu. Tapi secara batin mungkin tidak!" Karena tidak sengaja aku pernah menemukan wajah ibu yang memerah dan mata berkaca-kaca, Walau ibu menyembunyikannya , tapi aku tetap bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika ayah membanding-bandingkannya dengan istri mudanya. Kenapa ayah menjadi seperti makin egois terhadap ibu. Apa ayah tak pernah berfikir. Bagaimana perasaan ibu saat ayah bersama istri mudanya?  Kurasa ini tidak adil!" Karena hampir semua waktu ayah diberikan pada istri mudanya. Seperti tak menganggap ibu lagi. Dan sementara ibu harus menimang-nimang bayi mereka. Ibu sangat sabar menghadapi sikap mereka, Ibu sungguh tuluss mencintai ayah. Ibu rela terluka demi kebahagiaan ayah.*
                                                       ********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar