Rabu, 30 Januari 2013
Rabu, 08 Agustus 2012
Film Umar Bin Khotob
Ramadhan 1433 H kali ini terasa berbeda.
Sebetulnya, kami sekeluarga sepakat untuk tidak menyetel televisi
saat sahur, mengingat betapa mustajabnya doa-doa manusia di sepertiga
malam terakhir. Lebih baik mengisi dengan banyak istighfar atau
memanjatkan doa-doa yag menjadi hajat kepentingan dunia akhirat. Tapi,
sejak menonton serial Umar bin Khathab, anak-anak bersegera bangun
sahur dan meloncat sembari berseru – menyebut dua tayangan film
spesial.
“….Siti Maryam….”
“….film Umar bin Khathab, Mi!”
Film Umar bin Khathab terasa demikian istimewa, bukan hanya karena
ditayangkan saat ramadhan. Bagi yang pernah menonton Ar Risalah ( The
Messenger), Di Bawah Kilatan Pedang; mungkin akan merasa bahwa film
yang satu ini memang ‚beda’. Diproduksi secara kolosal, 10.000
figuran, melibatkan pemain peran dari 10 negara, memakan satu tahun
produksi untuk 31 episode, didukung soundtrack yang cukup mewakili
alur cerita; Umar bin Khathab mejadi salah satu film yang membuat
hati terhanyut. Meski sekarang agak sebal juga, mengingat ratingnya
yang semakin tinggi, iklannya juga semakin panjang. Meski menuai pro
dan kontra sejak awal pembuatannya, - sebagian ulama tak setuju 4
khalifah rasyidin dipersonifikasikan dengan alasan, pemain perannya
sungguh tak mewakili akhlaq para shabat yang sesungguhnya – film ini
mendapat tanggapan meriah dari sejumlah negara.
Mengapa saya sekeluarga menyukai Umar bin Khathab?
Shiroh Nabawiyah , 60 Karakteristik Sahabat, buku-buku sejarah
Mungkin, otak kita lebih cepat menangkap sesuatu secara visual,
berwarna-warni, gambar-gambar yang memiliki olah gerak dan gmbar
kehidupan nyata. Buku memang dekat, tetapi dibutuhkan ektra energi
untuk membangun imajinasi : seperti apa perang Badar? Seperti apa
perjanjian Hudaibiyah? Kenapa sih Islam dan Rasulullah Saw begitu
dibenci kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi di Madinah?
Lewat film, kita menjadi lebih memahami. Sekalipun, sekali lagi,
interpretasi orang bisa sangat berbeda meyikapi segala sesuatu. Saya
dan suami berdebat terkait Hamzah.
”Wah, Hamzah di film Umar kurang garang,” kata suami. ”Lebih mewakili
di ar Risalah.”
Meski kami berdua juga sepakat, belum menemukan pemain peran yang
betul-betul bisa mewakili Hamzah, Singa Allah.
Membaca Shirah Nabawiyah atau 60 Karakterisitk Sahabat Nabi, saya
sendiri agak kesulitan menghafal nama. Budaya Arab yang memperhatikan
nasab, bahasa yang berbeda, membuat nama-nama asing terasa sulit
diingat. Apalagi para pemain sejarah yang berawalan kata
”Abu”......wuah, saya angkat tangan. Yang sangat saya hafal tentu
Abubakar dan Abu Lahab! Tetapi Abu Yazid, Abu Bashir, Abu Jandal?
Siapa pula mereka? Di film Umar Alhamdulillah, kembali terbangun
secara kokoh pemahaman hubungan antara tokoh, peristiwa, tempat-tempat
bersejarah. Wahsyi-Bilal-Raihanna. Ikrimah-Khalid bin Walid- Walid bin
Walid bin Mughirah. Abu Sufyan-Suhail bin Amr-Abu Lahab. Dan masih
banyak lagi tokoh demi tokoh yang membuat kami memahami.
Ah, Rasulullah.
Begitukah kau melalui hidupmu selama ini?
PERAN TOKOH ANTAGONIS
Bahwa Abu Jahal terkenal sebagai musuh Islam, kita faham. Tapi
kejahatan macam apa yang membuatnya terjatuh dalam jurang kehinaan?
Sebagai manusia, tentu ingin berkaca, jangan sampai terjatuh pula kita
pada lubang yang sama.
Memerankan tokoh antagonis, jahat, tentu tidak seperti
sinetron-sinetron biasa yang menggambarkan seorang tokoh jahat harus
bermuka jelek, bengis, berteriak-teriak, berkata kotor, selalu memaki
dan memandang remeh si tokoh protagonis. Dalam sebuah film, kehidupan
realitas dicoba digambarkan demikian dekat. Tokoh jahat tidak mesti
memaki , tetapi dengan senyum dan kalimat halusnya, ia bisa memutar
balikkan fakta. Ia tidak mesti bengis, tapi kita bisa dibuat gemetar
lantaran tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi akal licinnya.
Dalam film Umar, ada beberapa tokoh antagonis yang dapat membuat kita
semakin memahami arti kedatangan Islam dan Rasulullah Saw :
1. Abu Jahal ; bangsawan Quraisy ini merupakan tokoh yang disegani. Ia
selalu memimpin sidang paripurna di Aula Pertemuan. Bukan hanya
sekedar punya kedudukan kuat, Abu Jahal sangat brillian memutar
balikkan kondisi Nabi dan para pengikutnya. Kharismatik, provokator
ulung. Selalu punya segudang cara untuk menghasut dan menindas kaum
muslimin. Kedatangan Islam memang meruntuhkan semua paradigma kaum
bangsawann : budak hitam macam Bilal, bisa berbicara setara dengan
Abubakar! Kedudukan Muhammad yang disegani dan dicintai, menggerogoti
keyakinan kaum Quraisy. Hingga perang Badar berlangsung, sungguh kita
justru memahami, pantaslah Nabi dimusuhi para pembesar Quraisy. Belum
pernah terjadi kondisi demikian egaliter.
2. Hindun
Cantik, mahir bersyair. Kecantikan dan mulut manisnya mampu merayu
Wahsyi agar bersedia membunuh Hamzah. Syairnya pula mampu menghasut
para lelaki, : ”apakah kalian akan duduk-duduk seperti kaum perempuan,
sementara kaum kita dibunuh para budak di perang Badar?”
Hindun adalah prototype masyhur, sebuah peperangan bisa berkobar
karena dorongan perempuan. Pasca Badar Hindun tak henti-henti
memprovokasi kaum Quraisy untuk membuat perhitungan dengan kaum
muslimin. Dan, kepada Wahsyi, Hindun menjanjikan satu hal paling
diimpikan seorang budak yang hidupnya habis bersama kotoran dan
kandang kuda : kemerdekaan.
3. Abu Sufyan
Abu Sufyan menggantikan posisi Abu Jahal di perang Badar. Sama
kharismatik, provokator ulung. Merancang sekian banyak taktik dan
strategi untuk melawan Nabi Saw. Berbeda dengan Abu Jahal yang ambisi
utamanya menghabisi Nabi, Abu Sufyan agaknya mulai sadar bahwa lambat
laun kekuatan kaum muslimin mulai terhimpun. Di Aula Abu Sufyan
memfasilitasi Ikrimah, Khalid, Suhail untuk mengemukakan strategi
terbaik memusuhi Nabi.
4. Suhail bin Amr
Abu Jahal, Hindun, Abu Sufyan adalah nama yang familiar. Suhail? Saya
pernah mendengarnya beberapa kali, tapi tak seberapa faham. Di film
Umar, Suhail mendapatkan porsi penting, sebagaimana perkataan Umar.
”Tidaklah suatu kaum mengutus Suhail bin Amr, kecuali untuk sebuah perjanjian.”
Suhail menginisiasi perjanjian Hudhaibiyah yang kelak, justru akan
sangat merugikan kaum Quraisy.
TOKOH PROTAGONIS
Siapa saja di film Umar?
Hm, check it out! Seberapa jauh kita mengenal sejarah Nabi. Jadi ingin
membuat film-film shahabat dan shahabiyah ya...
1. Umar bin Khatab (terlalu kalau tidak mengenalnya!)
2. Abubakar
3. Ali
4. Utsman
5. Fathimah bin Khatab
6. Bilal
7. Hamzah
8. Abu Bashir
9. Abdullah bin Suhail
10. Abu Jandal
11. Raihana
12. Walid bin Walid bin Mughirah
13. masih banyak lagi....
ADEGAN YANG MENGURAS AIRMATA
Mari kita menangis bersama , sampai suami berkata, “...persediaan air
matanya banyak banget?”
Ya. Hampir tiap episode saya dan anak-anak menangis. Di adegan mana sajakah itu?
1. Umar & surat Thoha
Umar di awal begitu antagonis. Tapi kejahatan Umar dan Abu Lahab
sangat berbeda, sebab Umar sejak awal tak suka menidas orang lemah.
Berbeda dengan Abu Lahab yang sangat arogan dan licik. Umar membenci
Muhammad sebab dianggap memecah belah Arab. Kisah yang sangat terkenal
adalah ketika ia menampar Fathimah hingga berdarah, tetapi akhirnya
mampu membaca dengan mata kepala sendiri, ayat-ayat yang dibaca
Fathimah.
“Thoha. Ma anzalna alaika Quran litasyqo..”
Wajah lelah, marah, kebingungan Umar campur aduk. Ia belum pernah
mendengar sendiri ayat-ayat Quran.
“…inikah yang membuat orang-orang Quraisy murka?”
2. Thola al Badru
Apapun versi filmnya, peristiwa hijrahnya Rasul dan sambutan orang
Madinah tak dapat dikisahkan lewat kata-kata. Thola al Badru adalah
lagu wajib kaum muslimin, terutama anak-anak untuk menggmabrkan
kecintaan yang besar pada Nabi yang telah menjalankan misi ini dengan
segenap penghinaan, kesakitan, dukalara dan segala macam nestapa yang
hanya sanggup dipikul seorang Nabi.
Jadi, waktu soundtrack Thola al Badru mengalun bersama unta Nabi
memasuki Madinah, airmata kami mengucur deras.
Anak saya sampai berkata,
“....kok kita nggak hidup di zaman Nabi aja ya Mi?”
3. Wahsyi yang (tidak) merdeka
Wahsyi hanya menginginkan kemerdekaan, maka ia menerima perintah
Hindun. Sesaat setelah membunuh Hamzah, Hindun mengumumkan
kemerdekaannya dan memberikan semua perhiasannya kepada Wahsyi. Wahsyi
bersorak dan pongah, Raihanna berkata, ” tunggulah esok hari, Wahsyi,
kau akan tau apakah kemerdekaan itu.”
Esok harinya, Wahsyi berdandan ala orang merdeka.
Di jalan ia tersenggol orang , yang serta merta memanggilnya, ” lihat
jalanmu hai Budak!”
Wahsyi memasuki aula yang dipimpin Abu Sufyan, semua pembesar Quraisy
mentertawakannya. Tuannya berkata, ” kau urus kudaku saja!”
Maka Wahsyi berlari ke rumahnya dan menangis tersedu. Ia tak mungkin
bergabung dengan kaum muslimin sebagaimana Bilal, sebab kaum muslimin
tentu membencinya. Kemerdekaan yang dijanjikan Hindun, tak berlaku
bagi masyarakat Quraisy. Ia tetap budak! Benar apa yang diisyaratkan
Raihanna, kekasihnya. Bahwa Bilal merdeka karena menjadi muslim dan
sejak itu ia setara dengan seluruh kaum muslimin entah mereka
bangsawan, pedagang, prajurit. Tetapi Wahsyi, kemerdekaannya adalah
semu. Ia tak akan pernah bebas merdeka sebagaimana harapan Wahsyi akan
janji Hindun kepadanya.
4. Abu Jandal terjebak Hudhaibiyah
Di film Umar, kita akan mengenal 3 tokoh yang mendapat peran penting;
Suhail bin Amr- Abdullah- Abu Jandal. Suhail adalah ayah kedua pemuda,
Abdullah & Abu Jandal. Abdullah dan Abu Jandal telah menjadi muslim
yang menentang Suhail. Keduanya ditawan dan dirantai dengan rantai
besi, dikunci di ruang gelap. Dengan akal bulusnya, Abdullah berhasil
menipu Suhail dan hijrah ke Madinah. Abu Jandal tidak ikut. Ia
bimbang, antara kecintaannya pada Nabi Saw dan kecintaannya pada
Suhail , sang ayah.
Berkali-kali Abu Jandal berniat kabur, tetapi berhasil tertawan kembali.
Suatu saat, ia berhasil melarikan diri, hingga Madinah.
Tepat di gerbang, ketika pernjanjian Hudhaibiyah baru saja
ditandatangai Suhail dan kaum muslimin ( Nabi, Umar, Abubakar, Ali,
Abdullah). Di gerbang Madinah, Suhail mencengkram lengan Abu Jandal.
Umar, Abubakar, Abdullah hanya menatap pilu.
Abu Jandal berteriak pedih,
”Wahai kaum muslimin....apakah kau akan mengembalikanku pada kaum yang
memfitnah agamaku??”
Abdullah menahan tangis.
Umar berkata,” demikianlah perjanjian kami.”
Abubakar menyampaikan pesan dari Nabi Saw yang terkenal, ” sabarlah
Abu Jandal. Allah mengetahui kaum mustadhafin (lemah). Bersamamu akan
ada kemudahan dan jalan keluar.”
Kami menangis di babak ini.....
Sebab, bagaimana perjuangan Abu Jandal di tengah tekanan ayahnya
Suhail, dan bagaimana ia mencoba berkali melarikan diri. Di pintu
Madinah, perjanjian Hudhaibiyah yang mengatakan, bila ada orang Mekkah
hijrah tanpa seizin walinya, harus dikembalikan. Dan di gerbang
Madinah, Abu Jandal melihat Abdullah berada dalam barisan kaum
muslimin sementara ia segera diseret ayahnya kembali ke Mekkah.
5. Walid bin Walid bin Mughirah dengan luka di kaki
Walid bin Walid bin Mughirah adalah saudara satu ayah berbeda ibu
dengan Khalid bin Walid. Kalau Khalid, tentu namanya familiar kan?
Walid lebih dahulu memeluk Islam. Bersama Abu Bashir, Abu Jandal, dan
kamu muslimin yang tidak dapat masuk ke Madinah karena terikat
perjanjian Hudhaibiyah; mereka juga tidak ingin kembali ke Mekkah yang
berisi para penindas. Akhirnya, kelompok yang dimotori Abu Bashir
membuat satu koloni baru di luar Mekkah dan Madinah. Koloni ini
mengganggu pedagang Mekkah, hingga akhirnya perjanjian Hudhaibiyah
terpaksa dibatalkan sebab kerugian pihak Abu Sufyan jauh lebih besar
sementara kaum muslimin justru semakin kuat terhimpun.
Ketika perjanjian Hudhaibiyah dibekukan, Nabi mengirim utusan ke
koloni untuk menjemput kaum muslimin.
Betapa bahagianya koloni Abu Bashir, sekalipun Abu Bashir tak dapat ke
Madinah karena meninggal . Dalam perjalanan dari wilayah koloni ke
Madinah, unta hanya 3 ekor. Kaum muslimi bergantian. Sang bangsawan
Walid berjalan, Abu Jandal di atas unta. Kaki Walid terluka hingga
berlumur darah. Abu Jandal meneriakinya
”sudah kukatakan agar kau naik unta!”
Walid terduduk sejenak, mengelus kakinya.
“....biarlah, kaki ini terluka di jalan Allah.”
6. Pertemuan Abdullah dan Abu Jandal
Koloni Abu Bashir tiba di Madinah, disambut hangat Umar dan Abubakar.
Abdullah dan Abu Jandal bertatapan, berpelukan.
Setelah perjuangan yang lama, panjang, berliku, berpisah tempat meski
hati bertaut dalam keimanan, akhirnya Abdullah dan Abu Jandal bertemu
kembali.
”Akhiina Abu Jandal,” gumam Abdullah.
Selain lebih memahami jalannya sejarah.
Lebih memahami tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.
Siap-siap terkuras airmata.
Di titik ini, rasanya, semua penderitaan, kesedihan dan pengorbanan
kita masih belum apa-apa dibanding para shahabat dulu.
Meski film ini berjudul Umar bin Khatab, perasaan cinta kepada Nabi
Muhammad Saw dan para sahabatnya –kita yang selama ini sudah tercemari
kelelahan mengurus segala tetek bengek perkara duniawai- akan tersemai
kembali.
Andai kita ikut hijrah.
Andai kita ikut membangun Khandaq
Andai kita bisa melihat senyum Rasulullah Saw.
EPILOG SEMENTARA
(sebab masih berkelanjutan episodenya)
Pasca perjanjian Hudhaibiyah, Rasul mengutus sahabat untuk
menyampaikan surat ke Persia, Romawi dll. Kaum Quraisy mengejek kaum
muslimin. Abu Sufyan, Ikrimah, Khalid (semuaya belum muslim) menghina.
”Kalian akan mencoba merambah Persia dan Romawi, padahal kalian
sendiri masih belum dapat mengalahkan kami?”
Lagi-lagi kami menangis.
Nabi yang dihinakan macam itu, tetap teguh dalam kesabaran dan menatap
optimis masa depan. Tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya
Nis, anakku berkata berkali-kali,
”....andaikan kita hidup di zaman Nabi ya Mi.”
Aku hanya bisa berkata,
”.....sanggupkah kita bersabar seperti Abubakar, Umar, Abu Jandal dan
yang lainnya? Sanggupkah kita tetap percaya pada Nabi Saw seperti
mereka –para shahabat- disaat kita dihina dan direndahkan?”
------------------------------------
==========================
Sebetulnya, kami sekeluarga sepakat untuk tidak menyetel televisi
saat sahur, mengingat betapa mustajabnya doa-doa manusia di sepertiga
malam terakhir. Lebih baik mengisi dengan banyak istighfar atau
memanjatkan doa-doa yag menjadi hajat kepentingan dunia akhirat. Tapi,
sejak menonton serial Umar bin Khathab, anak-anak bersegera bangun
sahur dan meloncat sembari berseru – menyebut dua tayangan film
spesial.
“….Siti Maryam….”
“….film Umar bin Khathab, Mi!”
Film Umar bin Khathab terasa demikian istimewa, bukan hanya karena
ditayangkan saat ramadhan. Bagi yang pernah menonton Ar Risalah ( The
Messenger), Di Bawah Kilatan Pedang; mungkin akan merasa bahwa film
yang satu ini memang ‚beda’. Diproduksi secara kolosal, 10.000
figuran, melibatkan pemain peran dari 10 negara, memakan satu tahun
produksi untuk 31 episode, didukung soundtrack yang cukup mewakili
alur cerita; Umar bin Khathab mejadi salah satu film yang membuat
hati terhanyut. Meski sekarang agak sebal juga, mengingat ratingnya
yang semakin tinggi, iklannya juga semakin panjang. Meski menuai pro
dan kontra sejak awal pembuatannya, - sebagian ulama tak setuju 4
khalifah rasyidin dipersonifikasikan dengan alasan, pemain perannya
sungguh tak mewakili akhlaq para shabat yang sesungguhnya – film ini
mendapat tanggapan meriah dari sejumlah negara.
Mengapa saya sekeluarga menyukai Umar bin Khathab?
Shiroh Nabawiyah , 60 Karakteristik Sahabat, buku-buku sejarah
Mungkin, otak kita lebih cepat menangkap sesuatu secara visual,
berwarna-warni, gambar-gambar yang memiliki olah gerak dan gmbar
kehidupan nyata. Buku memang dekat, tetapi dibutuhkan ektra energi
untuk membangun imajinasi : seperti apa perang Badar? Seperti apa
perjanjian Hudaibiyah? Kenapa sih Islam dan Rasulullah Saw begitu
dibenci kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi di Madinah?
Lewat film, kita menjadi lebih memahami. Sekalipun, sekali lagi,
interpretasi orang bisa sangat berbeda meyikapi segala sesuatu. Saya
dan suami berdebat terkait Hamzah.
”Wah, Hamzah di film Umar kurang garang,” kata suami. ”Lebih mewakili
di ar Risalah.”
Meski kami berdua juga sepakat, belum menemukan pemain peran yang
betul-betul bisa mewakili Hamzah, Singa Allah.
Membaca Shirah Nabawiyah atau 60 Karakterisitk Sahabat Nabi, saya
sendiri agak kesulitan menghafal nama. Budaya Arab yang memperhatikan
nasab, bahasa yang berbeda, membuat nama-nama asing terasa sulit
diingat. Apalagi para pemain sejarah yang berawalan kata
”Abu”......wuah, saya angkat tangan. Yang sangat saya hafal tentu
Abubakar dan Abu Lahab! Tetapi Abu Yazid, Abu Bashir, Abu Jandal?
Siapa pula mereka? Di film Umar Alhamdulillah, kembali terbangun
secara kokoh pemahaman hubungan antara tokoh, peristiwa, tempat-tempat
bersejarah. Wahsyi-Bilal-Raihanna. Ikrimah-Khalid bin Walid- Walid bin
Walid bin Mughirah. Abu Sufyan-Suhail bin Amr-Abu Lahab. Dan masih
banyak lagi tokoh demi tokoh yang membuat kami memahami.
Ah, Rasulullah.
Begitukah kau melalui hidupmu selama ini?
PERAN TOKOH ANTAGONIS
Bahwa Abu Jahal terkenal sebagai musuh Islam, kita faham. Tapi
kejahatan macam apa yang membuatnya terjatuh dalam jurang kehinaan?
Sebagai manusia, tentu ingin berkaca, jangan sampai terjatuh pula kita
pada lubang yang sama.
Memerankan tokoh antagonis, jahat, tentu tidak seperti
sinetron-sinetron biasa yang menggambarkan seorang tokoh jahat harus
bermuka jelek, bengis, berteriak-teriak, berkata kotor, selalu memaki
dan memandang remeh si tokoh protagonis. Dalam sebuah film, kehidupan
realitas dicoba digambarkan demikian dekat. Tokoh jahat tidak mesti
memaki , tetapi dengan senyum dan kalimat halusnya, ia bisa memutar
balikkan fakta. Ia tidak mesti bengis, tapi kita bisa dibuat gemetar
lantaran tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi akal licinnya.
Dalam film Umar, ada beberapa tokoh antagonis yang dapat membuat kita
semakin memahami arti kedatangan Islam dan Rasulullah Saw :
1. Abu Jahal ; bangsawan Quraisy ini merupakan tokoh yang disegani. Ia
selalu memimpin sidang paripurna di Aula Pertemuan. Bukan hanya
sekedar punya kedudukan kuat, Abu Jahal sangat brillian memutar
balikkan kondisi Nabi dan para pengikutnya. Kharismatik, provokator
ulung. Selalu punya segudang cara untuk menghasut dan menindas kaum
muslimin. Kedatangan Islam memang meruntuhkan semua paradigma kaum
bangsawann : budak hitam macam Bilal, bisa berbicara setara dengan
Abubakar! Kedudukan Muhammad yang disegani dan dicintai, menggerogoti
keyakinan kaum Quraisy. Hingga perang Badar berlangsung, sungguh kita
justru memahami, pantaslah Nabi dimusuhi para pembesar Quraisy. Belum
pernah terjadi kondisi demikian egaliter.
2. Hindun
Cantik, mahir bersyair. Kecantikan dan mulut manisnya mampu merayu
Wahsyi agar bersedia membunuh Hamzah. Syairnya pula mampu menghasut
para lelaki, : ”apakah kalian akan duduk-duduk seperti kaum perempuan,
sementara kaum kita dibunuh para budak di perang Badar?”
Hindun adalah prototype masyhur, sebuah peperangan bisa berkobar
karena dorongan perempuan. Pasca Badar Hindun tak henti-henti
memprovokasi kaum Quraisy untuk membuat perhitungan dengan kaum
muslimin. Dan, kepada Wahsyi, Hindun menjanjikan satu hal paling
diimpikan seorang budak yang hidupnya habis bersama kotoran dan
kandang kuda : kemerdekaan.
3. Abu Sufyan
Abu Sufyan menggantikan posisi Abu Jahal di perang Badar. Sama
kharismatik, provokator ulung. Merancang sekian banyak taktik dan
strategi untuk melawan Nabi Saw. Berbeda dengan Abu Jahal yang ambisi
utamanya menghabisi Nabi, Abu Sufyan agaknya mulai sadar bahwa lambat
laun kekuatan kaum muslimin mulai terhimpun. Di Aula Abu Sufyan
memfasilitasi Ikrimah, Khalid, Suhail untuk mengemukakan strategi
terbaik memusuhi Nabi.
4. Suhail bin Amr
Abu Jahal, Hindun, Abu Sufyan adalah nama yang familiar. Suhail? Saya
pernah mendengarnya beberapa kali, tapi tak seberapa faham. Di film
Umar, Suhail mendapatkan porsi penting, sebagaimana perkataan Umar.
”Tidaklah suatu kaum mengutus Suhail bin Amr, kecuali untuk sebuah perjanjian.”
Suhail menginisiasi perjanjian Hudhaibiyah yang kelak, justru akan
sangat merugikan kaum Quraisy.
TOKOH PROTAGONIS
Siapa saja di film Umar?
Hm, check it out! Seberapa jauh kita mengenal sejarah Nabi. Jadi ingin
membuat film-film shahabat dan shahabiyah ya...
1. Umar bin Khatab (terlalu kalau tidak mengenalnya!)
2. Abubakar
3. Ali
4. Utsman
5. Fathimah bin Khatab
6. Bilal
7. Hamzah
8. Abu Bashir
9. Abdullah bin Suhail
10. Abu Jandal
11. Raihana
12. Walid bin Walid bin Mughirah
13. masih banyak lagi....
ADEGAN YANG MENGURAS AIRMATA
Mari kita menangis bersama , sampai suami berkata, “...persediaan air
matanya banyak banget?”
Ya. Hampir tiap episode saya dan anak-anak menangis. Di adegan mana sajakah itu?
1. Umar & surat Thoha
Umar di awal begitu antagonis. Tapi kejahatan Umar dan Abu Lahab
sangat berbeda, sebab Umar sejak awal tak suka menidas orang lemah.
Berbeda dengan Abu Lahab yang sangat arogan dan licik. Umar membenci
Muhammad sebab dianggap memecah belah Arab. Kisah yang sangat terkenal
adalah ketika ia menampar Fathimah hingga berdarah, tetapi akhirnya
mampu membaca dengan mata kepala sendiri, ayat-ayat yang dibaca
Fathimah.
“Thoha. Ma anzalna alaika Quran litasyqo..”
Wajah lelah, marah, kebingungan Umar campur aduk. Ia belum pernah
mendengar sendiri ayat-ayat Quran.
“…inikah yang membuat orang-orang Quraisy murka?”
2. Thola al Badru
Apapun versi filmnya, peristiwa hijrahnya Rasul dan sambutan orang
Madinah tak dapat dikisahkan lewat kata-kata. Thola al Badru adalah
lagu wajib kaum muslimin, terutama anak-anak untuk menggmabrkan
kecintaan yang besar pada Nabi yang telah menjalankan misi ini dengan
segenap penghinaan, kesakitan, dukalara dan segala macam nestapa yang
hanya sanggup dipikul seorang Nabi.
Jadi, waktu soundtrack Thola al Badru mengalun bersama unta Nabi
memasuki Madinah, airmata kami mengucur deras.
Anak saya sampai berkata,
“....kok kita nggak hidup di zaman Nabi aja ya Mi?”
3. Wahsyi yang (tidak) merdeka
Wahsyi hanya menginginkan kemerdekaan, maka ia menerima perintah
Hindun. Sesaat setelah membunuh Hamzah, Hindun mengumumkan
kemerdekaannya dan memberikan semua perhiasannya kepada Wahsyi. Wahsyi
bersorak dan pongah, Raihanna berkata, ” tunggulah esok hari, Wahsyi,
kau akan tau apakah kemerdekaan itu.”
Esok harinya, Wahsyi berdandan ala orang merdeka.
Di jalan ia tersenggol orang , yang serta merta memanggilnya, ” lihat
jalanmu hai Budak!”
Wahsyi memasuki aula yang dipimpin Abu Sufyan, semua pembesar Quraisy
mentertawakannya. Tuannya berkata, ” kau urus kudaku saja!”
Maka Wahsyi berlari ke rumahnya dan menangis tersedu. Ia tak mungkin
bergabung dengan kaum muslimin sebagaimana Bilal, sebab kaum muslimin
tentu membencinya. Kemerdekaan yang dijanjikan Hindun, tak berlaku
bagi masyarakat Quraisy. Ia tetap budak! Benar apa yang diisyaratkan
Raihanna, kekasihnya. Bahwa Bilal merdeka karena menjadi muslim dan
sejak itu ia setara dengan seluruh kaum muslimin entah mereka
bangsawan, pedagang, prajurit. Tetapi Wahsyi, kemerdekaannya adalah
semu. Ia tak akan pernah bebas merdeka sebagaimana harapan Wahsyi akan
janji Hindun kepadanya.
4. Abu Jandal terjebak Hudhaibiyah
Di film Umar, kita akan mengenal 3 tokoh yang mendapat peran penting;
Suhail bin Amr- Abdullah- Abu Jandal. Suhail adalah ayah kedua pemuda,
Abdullah & Abu Jandal. Abdullah dan Abu Jandal telah menjadi muslim
yang menentang Suhail. Keduanya ditawan dan dirantai dengan rantai
besi, dikunci di ruang gelap. Dengan akal bulusnya, Abdullah berhasil
menipu Suhail dan hijrah ke Madinah. Abu Jandal tidak ikut. Ia
bimbang, antara kecintaannya pada Nabi Saw dan kecintaannya pada
Suhail , sang ayah.
Berkali-kali Abu Jandal berniat kabur, tetapi berhasil tertawan kembali.
Suatu saat, ia berhasil melarikan diri, hingga Madinah.
Tepat di gerbang, ketika pernjanjian Hudhaibiyah baru saja
ditandatangai Suhail dan kaum muslimin ( Nabi, Umar, Abubakar, Ali,
Abdullah). Di gerbang Madinah, Suhail mencengkram lengan Abu Jandal.
Umar, Abubakar, Abdullah hanya menatap pilu.
Abu Jandal berteriak pedih,
”Wahai kaum muslimin....apakah kau akan mengembalikanku pada kaum yang
memfitnah agamaku??”
Abdullah menahan tangis.
Umar berkata,” demikianlah perjanjian kami.”
Abubakar menyampaikan pesan dari Nabi Saw yang terkenal, ” sabarlah
Abu Jandal. Allah mengetahui kaum mustadhafin (lemah). Bersamamu akan
ada kemudahan dan jalan keluar.”
Kami menangis di babak ini.....
Sebab, bagaimana perjuangan Abu Jandal di tengah tekanan ayahnya
Suhail, dan bagaimana ia mencoba berkali melarikan diri. Di pintu
Madinah, perjanjian Hudhaibiyah yang mengatakan, bila ada orang Mekkah
hijrah tanpa seizin walinya, harus dikembalikan. Dan di gerbang
Madinah, Abu Jandal melihat Abdullah berada dalam barisan kaum
muslimin sementara ia segera diseret ayahnya kembali ke Mekkah.
5. Walid bin Walid bin Mughirah dengan luka di kaki
Walid bin Walid bin Mughirah adalah saudara satu ayah berbeda ibu
dengan Khalid bin Walid. Kalau Khalid, tentu namanya familiar kan?
Walid lebih dahulu memeluk Islam. Bersama Abu Bashir, Abu Jandal, dan
kamu muslimin yang tidak dapat masuk ke Madinah karena terikat
perjanjian Hudhaibiyah; mereka juga tidak ingin kembali ke Mekkah yang
berisi para penindas. Akhirnya, kelompok yang dimotori Abu Bashir
membuat satu koloni baru di luar Mekkah dan Madinah. Koloni ini
mengganggu pedagang Mekkah, hingga akhirnya perjanjian Hudhaibiyah
terpaksa dibatalkan sebab kerugian pihak Abu Sufyan jauh lebih besar
sementara kaum muslimin justru semakin kuat terhimpun.
Ketika perjanjian Hudhaibiyah dibekukan, Nabi mengirim utusan ke
koloni untuk menjemput kaum muslimin.
Betapa bahagianya koloni Abu Bashir, sekalipun Abu Bashir tak dapat ke
Madinah karena meninggal . Dalam perjalanan dari wilayah koloni ke
Madinah, unta hanya 3 ekor. Kaum muslimi bergantian. Sang bangsawan
Walid berjalan, Abu Jandal di atas unta. Kaki Walid terluka hingga
berlumur darah. Abu Jandal meneriakinya
”sudah kukatakan agar kau naik unta!”
Walid terduduk sejenak, mengelus kakinya.
“....biarlah, kaki ini terluka di jalan Allah.”
6. Pertemuan Abdullah dan Abu Jandal
Koloni Abu Bashir tiba di Madinah, disambut hangat Umar dan Abubakar.
Abdullah dan Abu Jandal bertatapan, berpelukan.
Setelah perjuangan yang lama, panjang, berliku, berpisah tempat meski
hati bertaut dalam keimanan, akhirnya Abdullah dan Abu Jandal bertemu
kembali.
”Akhiina Abu Jandal,” gumam Abdullah.
Selain lebih memahami jalannya sejarah.
Lebih memahami tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.
Siap-siap terkuras airmata.
Di titik ini, rasanya, semua penderitaan, kesedihan dan pengorbanan
kita masih belum apa-apa dibanding para shahabat dulu.
Meski film ini berjudul Umar bin Khatab, perasaan cinta kepada Nabi
Muhammad Saw dan para sahabatnya –kita yang selama ini sudah tercemari
kelelahan mengurus segala tetek bengek perkara duniawai- akan tersemai
kembali.
Andai kita ikut hijrah.
Andai kita ikut membangun Khandaq
Andai kita bisa melihat senyum Rasulullah Saw.
EPILOG SEMENTARA
(sebab masih berkelanjutan episodenya)
Pasca perjanjian Hudhaibiyah, Rasul mengutus sahabat untuk
menyampaikan surat ke Persia, Romawi dll. Kaum Quraisy mengejek kaum
muslimin. Abu Sufyan, Ikrimah, Khalid (semuaya belum muslim) menghina.
”Kalian akan mencoba merambah Persia dan Romawi, padahal kalian
sendiri masih belum dapat mengalahkan kami?”
Lagi-lagi kami menangis.
Nabi yang dihinakan macam itu, tetap teguh dalam kesabaran dan menatap
optimis masa depan. Tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya
Nis, anakku berkata berkali-kali,
”....andaikan kita hidup di zaman Nabi ya Mi.”
Aku hanya bisa berkata,
”.....sanggupkah kita bersabar seperti Abubakar, Umar, Abu Jandal dan
yang lainnya? Sanggupkah kita tetap percaya pada Nabi Saw seperti
mereka –para shahabat- disaat kita dihina dan direndahkan?”
------------------------------------
==========================
Suatu Hari Saat Ramadhan DiPesantren Suka Bumi.
Suatu Hari Ramadhan di Pesantren Husnayain Sukabumi
Raja Ali Haji, A Teeuw dan Gorrys Keraf
Oleh: Nuim Hidayat (Pengajar Pesantren Husnayain)
Seperti biasa tiap Senin pagi saya bersama beberapa Ustadz mengajar ke Pesantren Husnayain Sukabumi, Saya di pesantren itu diamanahi mengajar bahasa Indonesia untuk murid-murid SMA. Tapi kadangkala juga disuruh mengajar Tauhid, Sejarah dan lain-lain, seperti pada semester-semester lalu.
Murid di pesantren itu tidak begitu banyak. Rata-rata santrinya sekelas kurang dari 20 orang. Bila pelajaran, mereka laki-laki dan perempuan kumpul dalam kelas. Laki-laki di depan, perempuan di belakang. Dulu pernah ada niat untuk memisahkan laki-laki dan perempuan -atau baniin dan banaat, istilah popular di pesantren itu—tapi karena gurunya kurang, kini dicampur lagi. Meski dicampur interaksi baniin dan banaat dijaga ketat. Bila ketahuan mereka pacaran –misalnya berduaan di tempat sepia tau berboncengan motor- pesantren tak segan-segan akan mengeluarkannya.
Meski total jumlah santri tidak begitu banyak, tapi saya melihat semangat dalam diri mereka menyala dalam belajar. Mereka tiap hari latihan bicara bahasa Arab atau Inggris. Kosa kata ‘bahasa asing’ hampir tiap hari diberikan untuk dihafalkan. Untuk semakin memperlancar bahasa lain, mereka sering mengadakan latihan pidato dalam bahasa Arab/Inggris. Latihan ini diikuti oleh semua santri dan masing-masing mereka gantian ke depan mempersembahkan pidato terbaiknya. Saya pernah mengikuti acara ini –pada malam hari—serunya bukan main. Saya melihat hampir tidak ada yang malu atau grogi dalam latihan pidato itu. Mereka bertepuk tangan atau tertawa riang bila kawannya yang ngomong berbahasa asing itu salah ucap atau bingung memperpanjang ceramahnya.
Pesantren ini memang ingin mengadopsi Gontor dalam kurikulumnya. Terutama kurikulum pondoknya. Jadi ada pelajaran pondok, ada pelajaran umum. Cukup padat memang. Apalagi kurikulum SMA umum diberikan full di situ. Jam pelajaran dimulai dari 7.30 pagi sampai 15.00, dengan istirahat dua kali. Jam 09.00-09.30 dan 12.00-13.30.
Tapi saya melihat kebanyakan santri disitu (entah saya lebih suka menyebutnya murid, karena lebih membawa makna), semangat dalam belajar. Apalagi kalau diberikan tanya jawab atau kuiz. Mereka akan saling berlomba menjawabnya.
Dalam pelajaran ekstranya, mereka mendapat materi jurnalistik, pencak silat/’wushu’, olahraga, hafalan Al Qur’an, latihan pidato bahasa asing, pramuka dan lain-lain.
000
Saya terus terang sebenarnya tidak begitu ahli dalam pelajaran bahasa Indonesia ini. Mungkin karena saya senang menulis, saya diamanahi materi ini. Saya lebih suka mengajar jurnalistik sebagaimana pengalaman saya selama ini mengajar di STID Mohammad Natsir, UIKA Bogor atau Az Zahra. Tapi di pesantren pelajaran itu hanya ekstra.
Dari beberapa semester saya mengajar bahasa Indonesia, buku teks atau kurikulumnya tidak begitu bagus. “kering” dan bisa membuat bosan murid. Bahkan saya melihat materi-materi tentang drama terlalu banyak. Saya menangkap Diknas sendiri ‘bingung’ membuat materi bahasa Indonesia. Maka dalam Ujian Nasional, yang keluar hanya sedikit dari buku teks. Kebanyakan analisa kalimat atau logika. Logikanya pun kadang-kadang ‘linier’ alias tidak memberi kesempatan murid untuk memahami berbeda dalam kalimat bacaan itu. Saya pernah mendiskusikan soal-soal ujian Nasional bahasa Indonesia ini dengan beberapa teman dan kesimpulannya sama, banyak soal yang mestinya bisa dijawab lebih dari satu jawaban.
Yang menyedihkan buat saya adalah lepasnya pendidikan bahasa sekarang ini dari ruh Islam. Pelajaran bahasa sekarang didominasi oleh pakar-pakar Belanda atau sekuler. Maka tokoh-tokoh dalam bahasa Indonesia adalah Prof A Teeuw dan Gorys Keraf. Mereka telah berhasil membuat bahasa Indonesia ini menjadi sekuler. Yakni belajar bahasa hanya belajar tentang struktur kalimat, komposisi, diksi atau lainnya. Tidak ada sedikitpun dalam pelajaran bahasa dikaitkan dengan akhlak atau bahkan tauhid.
Padahal peletak dasar pertama kaidah-kaidah bahasa Indonesia sebenarnya adalah Raja Ali Haji. Ulama, sastrawan, penasehat raja dan ahli hikmah. Ia dilahirkan di Riau 1808 dan meningal dunia 1873. Karya-karyanya berbobot dan ditulis dalam bahasa Arab Melayu. Bila menulis tentang bahasa, syair/gurindam selalu ia kaitkan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam. Bandingkan bila dia menulis dengan pakar-pakar Belanda itu atau pakar-pakar bahasa Indonesia sekarang.
Dalam sebuah bukunya –kebetulan saya dapatkan dari salah seorang professor ketika berkunjung ke Universiti Kebangsaan Malaysia—ia menyatakan bahwa belajar bahasa itu tujuannya adalah untuk semakin makrifat kepada Allah. Yakni menambah keimanan. Apakah ada dalam kurikulum bahasa Diknas sekarang?
Maknanya dalam pelajaran bahasa, karena bahasa ini adalah simbol dari fakta atau ‘benda-benda’ di alam ini, maka semestinyalah dengan belajar bahasa orang akan semakin mengagumi pencipta-Nya. Apalagi proses berbahasa lewat alat indera yang diberikan Allah kepada kita.
Sekarang ini tujuan orang belajar bahasa –bahasa Indonesia atau lainnya—kebanyakan semata-mata tujuannya adalah materi. Sebagai alat komunikasi atau penyebaran ide belaka. Banyak orang belajar bahasa akhlaknya makin buruk dan seterusnya. Karena pelajaran bahasa telah rusak, maka akhlak pelajar kini banyak yang rusak. Dan yang timbul bukan bahasa-bahasa yang beradab, tapi bahasa yang biadab. Maka popular lah kemudian bahasa-bahasa kasar atau bahasa prokem yang tidak mempunyai makna yang berarti.
Maka dalam pelajaran bahasa, saya sering mengingatkan murid-murid tentang Raja Ali Haji ini. Karya Gurindamnya seringkali saya suruh baca mereka di depan kelas. Dan saya kadang-kadang juga memberikan mereka latihan untuk membuat gurindam, pantun, puisi dan lain-lainnya dengan maksud agar suatu saat lahir kembali tokoh seperti Raja Ali Haji ini.
Begitu hebatnya Raja Ali Haji ini, seorang professor dari Malaysia dengan ‘telaten’ mau menerjemahkan karyanya kata per kata dalam bahasa Melayu. Ia pun dalam pengantarnya menyatakan begitu terkesan dengan karya Raja Ali Haji ini.
000
Sore kemarin bertepatan dengan 17 Ramadhan 1433H, saya hadir di acara buka bersama Pesantren Husnayain. Acara ini hampir sepenuhnya diinisiatif oleh para santri sendiri. Terutama oleh murid senior kelas III SMA. Mulai dari penggalangan dana, penyebaran undangan ke masyarakat, jadwal acara dan lain-lain.
Lebih dari dua ratus orang hadir pada acara itu. Diantaranya puluhan anak yatim. Dalam acara ini memang mereka sengaja diundang untuk diberikan santunan sekedarnya agar mereka turut merasakan kebahagiaan di bulan suci ini.
Yang menarik dalam acara itu, adalah ceramah dari pimpinan pesantren KH Ahmad Kholil Ridwan menjelang buka puasa. Dalam ceramahnya ini ia menguraikan tentang lafadz ‘kutiba’ dalam Al Qur’an, terutama dalam surat Al Baqarah. Di surat ini, terdapat empat lafadz kutiba (diwajibkan/kewajiban). Pertama tentang kewajiban puasa, kewajiban menjalankan hukum qishash, kewajiban berperang dan kewajiban menuliskan wasiat sebelum meninggal.
Kiyai Kholil menjelaskan materi ini ia sampaikan, karena pernah pada suatu saat ia ceramah, panitianya berpesan agar tidak membahas lagi tentang ayat ‘kutiba alaikumus shiyam’, bosan katanya. Meski ia mempertanyakan tentang tidak bolehnya bosan kepada ayat Al Qur’an, tapi ia selama hampir setahun merenung dan akhirnya menemukan tentang makna kutiba dalam surat al Baqarah. Jadi, menurutnya, kewajiban itu bukan puasa saja, tapi juga menegakkan syariat-syariat Allah yang lain, seperti penegakan hukum qishash bagi pembunuh, hukum jihad dan lain-lain. “Karena itu saya berpesan kepada santri-santri Husnayain agar setelah lulus nanti menjadi penegak-penegak syariat Allah di Indonesia,”tegasnya.
Ketua MUI ini mengingatkan bahwa kini telah berdiri Bank Syariat, Pengadilan Agama dan lain-lain, kenapa tidak sekalian menegakkan syariat Allah yang lain. “Bila hukum qishash ditegakkan, maka tidak usah memberi makan para pembunuh itu sampai dua puluh tahun atau seumur hidup. Uang rakyat jadi tersedot untuk makan mereka, padahal masih banyak rakyat yang miskin dan kelaparan butuh makan,”urainya. Ia juga prihatin kenapa pemerintah SBY masih terus memilih hukum peninggalan Belanda daripada hukum Islam. Padahal bila pembunuh dihukum bunuh (qishash) justru akan meminimalkan banyaknya kasus pembunuhan di Indonesia. Karena orang menjadi ngeri bila mau membunuh. “Walakum filqishaashi yaa Uulil Albaab”, Dan pada hukum qishash itu ada kehidupan wahai Ulil Albab (wahai orang mempunyai otak), kata Al Qur’an.
000
Begitulah sedikit pengalaman mengajar di Pesantren Husnayain, yang mungkin merupakan pesantren dengan view terindah di Indonesia. Karena pesantren ini di belakangnya persis adalah bukit-bukit perkebunan teh Jayanegara, Sukabumi. Karena begitu indah pemandangannya, perusahaan gas Amerika Chevron menempatkan kantor dan pabriknya persis di puncak bukit perkebunan teh itu.
Saya akhiri tulisan ini dengan Gurindam dari tokoh bahasa kita Raja Ali Haji. Semoga banyak manfaatnya. Wallaahu aliimun hakim. *
Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.
Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.
Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.
Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:
Hal kerajaan di dalam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,
Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila mendengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.
Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaitulah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.
Gurindam XII
Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.
--
=============
Raja Ali Haji, A Teeuw dan Gorrys Keraf
Oleh: Nuim Hidayat (Pengajar Pesantren Husnayain)
Seperti biasa tiap Senin pagi saya bersama beberapa Ustadz mengajar ke Pesantren Husnayain Sukabumi, Saya di pesantren itu diamanahi mengajar bahasa Indonesia untuk murid-murid SMA. Tapi kadangkala juga disuruh mengajar Tauhid, Sejarah dan lain-lain, seperti pada semester-semester lalu.
Murid di pesantren itu tidak begitu banyak. Rata-rata santrinya sekelas kurang dari 20 orang. Bila pelajaran, mereka laki-laki dan perempuan kumpul dalam kelas. Laki-laki di depan, perempuan di belakang. Dulu pernah ada niat untuk memisahkan laki-laki dan perempuan -atau baniin dan banaat, istilah popular di pesantren itu—tapi karena gurunya kurang, kini dicampur lagi. Meski dicampur interaksi baniin dan banaat dijaga ketat. Bila ketahuan mereka pacaran –misalnya berduaan di tempat sepia tau berboncengan motor- pesantren tak segan-segan akan mengeluarkannya.
Meski total jumlah santri tidak begitu banyak, tapi saya melihat semangat dalam diri mereka menyala dalam belajar. Mereka tiap hari latihan bicara bahasa Arab atau Inggris. Kosa kata ‘bahasa asing’ hampir tiap hari diberikan untuk dihafalkan. Untuk semakin memperlancar bahasa lain, mereka sering mengadakan latihan pidato dalam bahasa Arab/Inggris. Latihan ini diikuti oleh semua santri dan masing-masing mereka gantian ke depan mempersembahkan pidato terbaiknya. Saya pernah mengikuti acara ini –pada malam hari—serunya bukan main. Saya melihat hampir tidak ada yang malu atau grogi dalam latihan pidato itu. Mereka bertepuk tangan atau tertawa riang bila kawannya yang ngomong berbahasa asing itu salah ucap atau bingung memperpanjang ceramahnya.
Pesantren ini memang ingin mengadopsi Gontor dalam kurikulumnya. Terutama kurikulum pondoknya. Jadi ada pelajaran pondok, ada pelajaran umum. Cukup padat memang. Apalagi kurikulum SMA umum diberikan full di situ. Jam pelajaran dimulai dari 7.30 pagi sampai 15.00, dengan istirahat dua kali. Jam 09.00-09.30 dan 12.00-13.30.
Tapi saya melihat kebanyakan santri disitu (entah saya lebih suka menyebutnya murid, karena lebih membawa makna), semangat dalam belajar. Apalagi kalau diberikan tanya jawab atau kuiz. Mereka akan saling berlomba menjawabnya.
Dalam pelajaran ekstranya, mereka mendapat materi jurnalistik, pencak silat/’wushu’, olahraga, hafalan Al Qur’an, latihan pidato bahasa asing, pramuka dan lain-lain.
000
Saya terus terang sebenarnya tidak begitu ahli dalam pelajaran bahasa Indonesia ini. Mungkin karena saya senang menulis, saya diamanahi materi ini. Saya lebih suka mengajar jurnalistik sebagaimana pengalaman saya selama ini mengajar di STID Mohammad Natsir, UIKA Bogor atau Az Zahra. Tapi di pesantren pelajaran itu hanya ekstra.
Dari beberapa semester saya mengajar bahasa Indonesia, buku teks atau kurikulumnya tidak begitu bagus. “kering” dan bisa membuat bosan murid. Bahkan saya melihat materi-materi tentang drama terlalu banyak. Saya menangkap Diknas sendiri ‘bingung’ membuat materi bahasa Indonesia. Maka dalam Ujian Nasional, yang keluar hanya sedikit dari buku teks. Kebanyakan analisa kalimat atau logika. Logikanya pun kadang-kadang ‘linier’ alias tidak memberi kesempatan murid untuk memahami berbeda dalam kalimat bacaan itu. Saya pernah mendiskusikan soal-soal ujian Nasional bahasa Indonesia ini dengan beberapa teman dan kesimpulannya sama, banyak soal yang mestinya bisa dijawab lebih dari satu jawaban.
Yang menyedihkan buat saya adalah lepasnya pendidikan bahasa sekarang ini dari ruh Islam. Pelajaran bahasa sekarang didominasi oleh pakar-pakar Belanda atau sekuler. Maka tokoh-tokoh dalam bahasa Indonesia adalah Prof A Teeuw dan Gorys Keraf. Mereka telah berhasil membuat bahasa Indonesia ini menjadi sekuler. Yakni belajar bahasa hanya belajar tentang struktur kalimat, komposisi, diksi atau lainnya. Tidak ada sedikitpun dalam pelajaran bahasa dikaitkan dengan akhlak atau bahkan tauhid.
Padahal peletak dasar pertama kaidah-kaidah bahasa Indonesia sebenarnya adalah Raja Ali Haji. Ulama, sastrawan, penasehat raja dan ahli hikmah. Ia dilahirkan di Riau 1808 dan meningal dunia 1873. Karya-karyanya berbobot dan ditulis dalam bahasa Arab Melayu. Bila menulis tentang bahasa, syair/gurindam selalu ia kaitkan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam. Bandingkan bila dia menulis dengan pakar-pakar Belanda itu atau pakar-pakar bahasa Indonesia sekarang.
Dalam sebuah bukunya –kebetulan saya dapatkan dari salah seorang professor ketika berkunjung ke Universiti Kebangsaan Malaysia—ia menyatakan bahwa belajar bahasa itu tujuannya adalah untuk semakin makrifat kepada Allah. Yakni menambah keimanan. Apakah ada dalam kurikulum bahasa Diknas sekarang?
Maknanya dalam pelajaran bahasa, karena bahasa ini adalah simbol dari fakta atau ‘benda-benda’ di alam ini, maka semestinyalah dengan belajar bahasa orang akan semakin mengagumi pencipta-Nya. Apalagi proses berbahasa lewat alat indera yang diberikan Allah kepada kita.
Sekarang ini tujuan orang belajar bahasa –bahasa Indonesia atau lainnya—kebanyakan semata-mata tujuannya adalah materi. Sebagai alat komunikasi atau penyebaran ide belaka. Banyak orang belajar bahasa akhlaknya makin buruk dan seterusnya. Karena pelajaran bahasa telah rusak, maka akhlak pelajar kini banyak yang rusak. Dan yang timbul bukan bahasa-bahasa yang beradab, tapi bahasa yang biadab. Maka popular lah kemudian bahasa-bahasa kasar atau bahasa prokem yang tidak mempunyai makna yang berarti.
Maka dalam pelajaran bahasa, saya sering mengingatkan murid-murid tentang Raja Ali Haji ini. Karya Gurindamnya seringkali saya suruh baca mereka di depan kelas. Dan saya kadang-kadang juga memberikan mereka latihan untuk membuat gurindam, pantun, puisi dan lain-lainnya dengan maksud agar suatu saat lahir kembali tokoh seperti Raja Ali Haji ini.
Begitu hebatnya Raja Ali Haji ini, seorang professor dari Malaysia dengan ‘telaten’ mau menerjemahkan karyanya kata per kata dalam bahasa Melayu. Ia pun dalam pengantarnya menyatakan begitu terkesan dengan karya Raja Ali Haji ini.
000
Sore kemarin bertepatan dengan 17 Ramadhan 1433H, saya hadir di acara buka bersama Pesantren Husnayain. Acara ini hampir sepenuhnya diinisiatif oleh para santri sendiri. Terutama oleh murid senior kelas III SMA. Mulai dari penggalangan dana, penyebaran undangan ke masyarakat, jadwal acara dan lain-lain.
Lebih dari dua ratus orang hadir pada acara itu. Diantaranya puluhan anak yatim. Dalam acara ini memang mereka sengaja diundang untuk diberikan santunan sekedarnya agar mereka turut merasakan kebahagiaan di bulan suci ini.
Yang menarik dalam acara itu, adalah ceramah dari pimpinan pesantren KH Ahmad Kholil Ridwan menjelang buka puasa. Dalam ceramahnya ini ia menguraikan tentang lafadz ‘kutiba’ dalam Al Qur’an, terutama dalam surat Al Baqarah. Di surat ini, terdapat empat lafadz kutiba (diwajibkan/kewajiban). Pertama tentang kewajiban puasa, kewajiban menjalankan hukum qishash, kewajiban berperang dan kewajiban menuliskan wasiat sebelum meninggal.
Kiyai Kholil menjelaskan materi ini ia sampaikan, karena pernah pada suatu saat ia ceramah, panitianya berpesan agar tidak membahas lagi tentang ayat ‘kutiba alaikumus shiyam’, bosan katanya. Meski ia mempertanyakan tentang tidak bolehnya bosan kepada ayat Al Qur’an, tapi ia selama hampir setahun merenung dan akhirnya menemukan tentang makna kutiba dalam surat al Baqarah. Jadi, menurutnya, kewajiban itu bukan puasa saja, tapi juga menegakkan syariat-syariat Allah yang lain, seperti penegakan hukum qishash bagi pembunuh, hukum jihad dan lain-lain. “Karena itu saya berpesan kepada santri-santri Husnayain agar setelah lulus nanti menjadi penegak-penegak syariat Allah di Indonesia,”tegasnya.
Ketua MUI ini mengingatkan bahwa kini telah berdiri Bank Syariat, Pengadilan Agama dan lain-lain, kenapa tidak sekalian menegakkan syariat Allah yang lain. “Bila hukum qishash ditegakkan, maka tidak usah memberi makan para pembunuh itu sampai dua puluh tahun atau seumur hidup. Uang rakyat jadi tersedot untuk makan mereka, padahal masih banyak rakyat yang miskin dan kelaparan butuh makan,”urainya. Ia juga prihatin kenapa pemerintah SBY masih terus memilih hukum peninggalan Belanda daripada hukum Islam. Padahal bila pembunuh dihukum bunuh (qishash) justru akan meminimalkan banyaknya kasus pembunuhan di Indonesia. Karena orang menjadi ngeri bila mau membunuh. “Walakum filqishaashi yaa Uulil Albaab”, Dan pada hukum qishash itu ada kehidupan wahai Ulil Albab (wahai orang mempunyai otak), kata Al Qur’an.
000
Begitulah sedikit pengalaman mengajar di Pesantren Husnayain, yang mungkin merupakan pesantren dengan view terindah di Indonesia. Karena pesantren ini di belakangnya persis adalah bukit-bukit perkebunan teh Jayanegara, Sukabumi. Karena begitu indah pemandangannya, perusahaan gas Amerika Chevron menempatkan kantor dan pabriknya persis di puncak bukit perkebunan teh itu.
Saya akhiri tulisan ini dengan Gurindam dari tokoh bahasa kita Raja Ali Haji. Semoga banyak manfaatnya. Wallaahu aliimun hakim. *
Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.
Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.
Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.
Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:
Hal kerajaan di dalam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,
Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila mendengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.
Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaitulah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.
Gurindam XII
Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.
--
=============
Kamis, 26 Juli 2012
Kak Ai El
Berikut cerpen Hujan:
Hujan
Penulis: Sutardji Calzoum Bachri
***
Hujan menggelitik pepohonan di halaman, membasuh dahan, menggertap di atap, dan membangunkan Ayesha, gadis enam belas tahun yang tadinya nyenyak lelap di kamar.
“Alhamdulillah hujan,” bilang Ayesha sambil turun dari ranjang dan melangkah ke ruang depan. Ayesha memang senang pada hujan.
Jika hujan datang, ia serasa kedatangan teman yang akrab. Tapi, Ayesha tak membukakan pintu bagi sahabatnya itu. Ia hanya menyibakkan gorden di ruang depan dan dari kaca jendela diamatinya hujan di halaman. Ia juga tak mengucapkan selamat datang. Buat apa, hujan selalu selamat. Kalau kata-kata semacam itu diucapkan bakal berlebihan, pikir Ayesha.
Bermula karena merajuk pada matahari, ia beranjak senang pada hujan. Itu ketika masih usia sekitar lima tahunan, ketika ikut-ikutan ibunya memindahkan anak tanaman suplir ke halaman yang lantas remuk redam dibantai panas siang.
Kini, sudah lama ia tak benci matahari, tapi tetap saja ia lebih senang pada hujan. Dari hari ke hari, dari hujan ke hujan ia selalu semakin senang pada hujan. Di kelas, jika hujan datang ia selalu menatap ke luar. Guru mula-nula kesal, tapi akhirnya dibiarkan. Bagaimana pun, ia anak yang pintar. Ayesha selalu masuk dalam rangking terbaik di kelasnya.
Tidak sekedar senang pada hujan, kemudian ia pun bertanya-tanya sendiri tentang hujan. Bukan cuma butir-butir air yang mengucur di langit. Bukan hanya butir-butir runcing di ubun-ubun ketika orang lewat di jalan. Pastilah ada sesuatu yang lain dari hujan, begitu pikir Ayesha. Lantas, setiap hujan datang ia selalu menyapa, apakah hujan. Hujan menjawab dengan hujan. Dengan gemericik air, dengan gemertap di atap, dengan butir-butir dingin dan segar yang bersambungan sampai langit.
***
Kini, dalam jenjang usia enam belas, bagian-bagian tubuhnya elok membesar, bersama hati dan pikiran yang ikut berkembang. Dari hujan ke hujan, hujan semakin membukakan diri selapis-selapis padanya. Dan ia mulai semakin paham hujan. Lewat kaca jendela, ditatapnya hujan yang sedang membukakan makna. Butir-butir air lebat bersama angin menyibakkan dedaunan di halaman, dan pada dedaunan itu hujan menjadi dedaunan hujan. Deras hujan meniti-niti pagar dan pada pagar itu ia menjadi pagar hujan.
Lihatlah, hujan meloncat-loncat dari ranting ke ranting dan menjadi ranting hujan. Hujan pun berkisar dan mengusap-usap mawar, dan pada mawar itu menjadi mawar hujan. Lantas, pada buah jambu hujan menggelembung dan menjadi buah hujan.
Ayesha ingin memetik buah hujan tanpa menanggalkan jambu. Ia ingin meraih mawar hujan tanpa mengganggu mawar halaman. Ia ingin meniti dahan dan menyibak-nyibak ranting hujan tanpa mematahkan ranting dan membebani dahan itu. Ia ingin berjingkat pada pagar hujan tanpa menginjak besi pagar. Ia ingin, tapi ia tak mau membuka pintu melangkah ke luar dan masuk ke dalam hujan.
“Buat apa? Bercakap-cakap dengan hujan, memetik hujan, bukanlah harus berhujan-hujan. Engkau memetik makna ucapan orang, tidaklah harus masuk ke mulut orang atau memetik lidahnya,” bilang Ayesha.
***
Dan ia pun kini paham, hujan di luar mengajak bangkit hujan yang di dalam dirinya. Nyanyi hujan di atap, lambaian hujan pada dedaunan, dan kaki-kaki hujan di halaman terus memanggil-manggil. Jangan engkau bilang bunyi hujan. Hujan bukan sekedar gertap di kaleng Khong Guan, misalnya. Bagi Ayesha, hujan adalah ucapan yang mendedah sastra, nyanyi, musik, atau tari. Lihatlah, hujan menyibak-nyibakkan tarian pada dedaunan dan melentun anggun pada dahan dan batang.
Terpagut pada tari hujan, Ayesha mulai bersijingkat ke tengah ruangan dan segera melangkahkan tarian. Bagai angsa mengarungi telaga, ia pun asyik melayarkan tari. Ah, tidak tepat benar seperti angsa. Angsa tak pernah basah dengan tarian, sedangkan Ayesha melulu basah dengan tarian. Namun, jika engkau cicip tengkuk atau sikunya, kau takkan merasakan asin keringat di sana. Arena yang basah itu hujan.
Ia telah menjadi hujan sekarang. Ia menderas dari pojok ke pojok ruangan menarikan hujan. Bila piroutte ia putarkan, hujanlah yang memutarkan. Sesaat ia tegak tenang, membuat batang hujan dari lekuk tubuhnya dan membiarkan rintik-rintik tari merajut-rajut rambut hujan di tengkuknya. Lantas, jari-jemari kakinya meniti-niti tari sambil membiarkan tempias tari di lantai. Maka, lantai ruangan ikut basah dengan tarian. Lihatlah, ia menekukkan lutut dan tangan anggun tarinya memetik kuncup hujan yang perlahan-lahan berkembang menjadi mawar hujan ke seluruh badan. Lalu, datanglah kupu-kupu hujan dari negeri yang jauh menangkup telinganya, membuahinya dengan rintik-rintik musik dari negeri kekal yang dekat sekaligus jauh.
Kini, Ayesha telah memiliki buah dan mawar hujan. Sekarang ia telah sampai pada kematangan hujan. Jika tarinya membelai mawar hujan, hujanlah yang membelaikannya. Bila ia memetik musik hujan, hujanlah yang memetikkan.
***
Dalam puncak hujan tarinya itu, tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Ayesha tersentak, dan putuslah tarian. Ibunya pulang dari super market terperangah sesaat melihat lantai basah dan Ayesha yang tertegun bagaikan patung yang masih menangkap sisa hujan.
Ibu memandang langit-langit. Kering, tak ada basah di sana. Ia pun tersenyum, lantas ia letakkan plastik belanjaan di sofa dan pergi mengambil handuk di kamar.
“Rupanya engkau mengembara lagi, Ayesha,” ujarnya sambil mengelap tubuh anaknya yang masih terpancang diam dan menyimpan hujan. Dan gumpalan jari-jemari katun handuk itu perlahan-lahan mengembalikan Ayesha pada dunia yang kering kerontang.
***
Selasa, 24 Juli 2012
Cerpen KK Ai El
leh Ai El Afif
Andai saja aku dan pacarku tak berbuat dosa, pasti aku tak jadi begini. Meregang nyawa di usia 20 tahun karena pacarku memasaksaku melakukan aborsi.
I
Dengan kuda terbang aku mencarimu. Kubisikkan angin kematian agar menyepah celaka. Ingatkah kau hikayat kita? Kisah gumpal darah yang kau gugurkan. Aku ingin mengubah kisahnya. Menghadirkan merah, getah, dan malam gerhana…
*
Aku bersendawa. Tak bisa kupastikan berapa banyak bangkai tertelan. Kemarin—kalau tak salah, seratus capung, enam ribu lintah, secawan lalat, dan seribu cacing tanah melarut lambung.
Aku terserang lapar.
Kuputuskan menyantap tiga kucing hitam, semangkuk lelawa, dan sepuluh buaya rawa malam ini bersama Sang Guru di dalam gua basah.
“Berapa usiamu?” wanita berambut ular, berwajah seperempat rusak itu menatapku.
”Dua puluh.” ucapku sembari menjilat kuku, membersihkan sisa lelawa.
”Bukan usia dunia yang kutanyakan, tapi usia kematianmu. Sudah berapa lama kau menjadi hantu?” mata wanita itu menusuk tajam, seakan menyimpan dendam curam.
“Malam ini memasuki hari ke lima belas.”
” Kau menenggak racun karena putus cinta?” ia menerka. Kulihat ada nyala di matanya.
“Bukan. Aku menelan cairan pahit dari botol bergambar bintang, sepuluh menit sebelum aborsi.”
”Perempuan tolol! Kau melakukan nista. Pantas kau gentayangan!”
”Aku ingin janinku, Guru… Tapi pacar, ah pembunuh itu tak menginginkanya!”
”Kau membencinya?!”
Aku mengangguk.
”Lalu, untuk apa kau kemari?”
”Untuk berguru padamu. Aku ingin memanjangkan kuku dan dua taring kelabu.”
II
Aku bertaruh nyawa menggugurkan gumpal darah. Namun kau keras kepala! Sungguh, ingin kutampar kanan-kiri pipimu saat itu. Berharap merah itu terbit pada mata, pipi, dan bibirmu yang pecah.
*
Aku tak ingin menjadi ayah semuda ini!
Sengit mulutmu terngiang. Memantul, meletupkan murka. Entah mengapa kurindukan wajah basi dan busuk nafasmu. Ada kenikmatan bila ritual ini usai. Kan kucari kau agar benciku tuntas.
Sayang, persiapkan dirimu sekarang. Tak ada gunanya membiarkan kau berkitar menghirup nafas bumi.
Seketika liurku meruah.
Aku mendesah, menghembuskan napas kesumat.
Lima belas hari bergantung pada dinding gua, mengatup mata, membiarkan lelawa membungkus rambut, wajah dan badan mengundang lelah. Aku seperti Kristus di sini. Kedua tangan merentang, kaki terpaku rapat dan kepala tertunduk khidmat. Sementara Guru di bawah sana mendendangkan mantra kesaktian. Penuh awas menjaga nyala api dan ia hembuskan asapnya sesekali ke arahku tiap satu mantra usai.
Kurasakan tubuhku bergejolak. Rusukku ingin melesat, menembus badan.
Sebentar lagi mungkin aku menjelma penyihir atau saja Vampire. Seperti wanita dengki yang tak menginginkan Putri Salju mengalahkan kecantikannya. Pun aku begitu. Menjelma dalam kecantikan gelap, membawa apel berkilap agar lelaki yang tak bertanggung jawab itu mencicipnya. Berharap ia tertidur dalam suram abadi dan membusuk di atas pembaringan.
Tepat seperti aku yang menahan sakit saat sepasang tangan menggaruk janinku dulu.
Wahai lelaki berjakun, berdoalah sesering kau bisa. Hafalkan semua doa pengusir setan wanita. Kupastikan lelapmu membeku dan jangan berharap nasibmu serupa putri tidur. Takkan ada wanita yang sudi menciumimu dan membuat kau terbangun.
III
Harusnya kau terlahir cacat. Tak bertangan tak bermata. Sebab mata dan tanganmu mengajarkan dosa. Tiap kali mulutmu menggoda, meruapkan mantra cinta, pipi ini tersapu merah. Tangan itu yang memetik dahlia dan kau sematkan tepat di atas telinga….
Adakah ular di surga itu dahulunya kau? Yang menggoda Adam dan Hawa mengunyah apel merah?Dan memilih bereinkarnasi agar di dunia kau kembali menggoda?Kalau benar adanya, kini kucari kau dalam sepi berharap kau mati. Sebab aku bukan pendosa!
*
Rentetan kejadian itu kembali ditampilkan: pertama-taman kau berang melempar barang-barang. Mengamuk setan, menendang pintu, membanting kursi-kursi ruang tamu. Tak sampai di situ, kau menjelma Tuhan. Mengekang tenggorokan dengan dua tangan dan memaksa menelan air busa memabukkan.
Cairan pekat. Cairan pahit. Cairan menyengat.
Pusing. Pusing. Pusing. Pusing. Pusing. Pusing . Pusing. Pusing. Pusing.
Brukkk!
Aku limbung. Terjatuh dari dinding gua.
”Kau tak boleh mengingat masa lalu!” wanita berambuat ular menegurku. Diulurkan tangannya yang pucat keriput.
”Aku ingin membalas dendamku, Guru.”
”Sabarlah. Purnama sebentar lagi muncul. Taringmu pun akan timbul.”
”Bagaimana dengan kukuku, Guru?”
“Setelah kau menyantap empat gagak hutan dan kelabang kembar, barulah kukumu memanjang dan menghitam.”
”Bagaimana mendapatkan semua hewan itu?”
Tak ada jawaban di sana. Hanya terdengar lengkingan panjang. Menderik, menghantar celaka.
Angin memusar di sekitar kami. Kulihat mata guru memerah. Lalu gurat ungu, hijau, dan biru menyatu, menutup bola matanya. Kepala yang dipenuhi ular itu, menggeliat tak karuan. Lalu ia mengerang. Kedua tanganya kebas mengeluarkan darah yang menetes ke segala arah. Aku memekik. Kupikir, telah salah berguru pada perempuan berwajah seperempat rusak ini.
Ia kian gila. Menggelepar. Berkoar-koar dalam lengkingan panjang lengkingan pendek. Nafas panjang nafas pendek. Tawa panjang tawa pendek. Terdengar gema. Terdengar murka. Terdengar tawa kering-serak-sesak-basah. Panjang, memantul melengking-lengking. Lalu ia diam. Lalu Sepi. Lalu angin berhembus kembali.
Kami sehadapan. Aku mundur beberapa langkah. Berjaga-jaga dari serangan yang mungkin tak kutahu arahnya.
Wanita itu membuat cakar seperti kucing menggaruk batang pohon damar. Dengan cepat ia tempelkan tangannya di perut dan membuat sobekan menganga di sana. Aku melihatnya! Aku melihat isi perutnya yang beragam rupa. Usus menggantung, darah meruah, gumpal cacing tanah, hitam lintah, daging kucing terbungkus lendir, dan empat telur utuh juga kelabang kembar. Semua itu bercecer. Encer mencium tanah.
Kilap. Liat. Licin. Menggumpal. Amis. Anyir.
“Kau takut?” ucapnya dalam kilatan mata membara.
“….” Suaraku kering. Tercekat entah di mana.
”Kau lihat empat telur dan kelabang kembar dari isi perutku?”
Aku menggerakkan kepala ke atas ke bawah.
“Ambil keempat telur itu. Dekatkan ia pada api. Dan kelabang kembar itu, kunyahlah!”
Aku menurut. Dengan cepat kupunguti empat telur dan mendekatkannya pada api.
Terdegar kretak. Sepertinya telur ini menetas. Aku terperangah. Lamat-lamat sesuatu menyerunduk, memaksakan diri ke luar dari cangkang telur.
”Guru, telurnya…”
”Purnama telah muncul. Telur itu, berisi bayi-bayi gagak. Telan semuanya. Dan kau tutup santap malammu dengan kelabang kembar!”
Gemetar aku menyuapkan mulut ini dengan bayi-bayi gagak. Rasanya geli bukan main saat gigi dan langit-langit tersentuh mereka. Tak ada waktu untuk menguyah. Kupaksakan tenggorokan menelan dengan cepat.
Purnama bersinar. Kuraup kelabang kembar dan kulenyapkan tanpa tergerus geligi.
”Kau sudah siap. Sekarang saatnya.” Guru menarikku ke luar. Menjauh dari gua basah.
Di bawah cerlang purnama, ia meniup wajahku tiga kali berturut-turut. Aku mengerang. Mataku perih tak tertahan. Lalu, lengkingan serigala melesat dari mulutku yang kerontang.
Kuku ini memanjang kelam. Taringku lancip tersapu kelabu-hitam. Aku terguncang-guncang dilarung tawa.
”Kau murid yang harus kujaga. Tak boleh kau meninggalkanku sendiri dalam sepi tak bernyawa.”
Kami sehadapan, dengan mata saling bertukar pandang.
Guru menghembuskan napas. Dalam gerakan lamat-lamat diguncangkkan kakinya empat kali dan berubahlah ia menjadi kuda terbang berwajah seperempat rusak.
Aku terpesona.
”Naiklah, tunggangi aku dalam perjalanan dendammu.”
IV
Hujan tercurah. Langit memuntahkan guntur bersahut-sahutan. Kulihat kau terlelap. Nikmat memeluk guling. Dengkuran itu berirama dendam. Aku tak sabar. Gelap ini menggiurkan.
Dari kaca jendela aku mengintipmu. Jegil kedua mata melihat kau tersungkur kuyu beradu mimpi busuk. Aku tak membayangkan bagaimana caranya membangunkanmu dengan baik. Apa kusiapkan secangkir kopi yang menguarkan harum biji-bijinya dan pelan sekali kau menggeliat terjaga? Ah, itu terlalu romantis!
Bagaimana dengan cara ini: aku berjelanak di bawah karpet kamarmu sembari menenteng gelas berkaki jenjang berisi darah segar? Perlahan kuusap keningmu dan kau terbangun, memekik ketakutan, mengingat Tuhan.
Ahhh!! Terlalu lama. Tak baik membuang-buang waktu. Aku berjalan menembus dinding kamarmu. Sejenak kutatap wajahmu lekat-lekat. Sungguh manis kuku ini membuat luka di wajah itu. Dengan kasar aku menjambak selimut dan membuat kau berguling jatuh tertumbuk lantai.
Kau terbangun.
“Apa kabar, Sayang… Aku datang membawa kematian!”
Sungguh, sebuah kalimat pembuka yang indah.
”K…Ka..kau…” kau tergugu. Kalimatmu seperti anak TK mengeja kata-kata.
Ingin kusemburkan tawa sekarang.
“Iya, ini aku. Suatu kehormatan sehadapan denganmu!”
Kau menampar pipimu berulang-ulang. Menyisakan merah yang mebias persis perona pipi wanita.
”Kau sadar kalau ini bukan mimpi? Hmm.. kasurmu mengingatkan peristiwa gumpal darah. Ini kasur di mana aku ditidurkan, bukan?”
Kau terisak. Bergetar. Menampilkan ketakutam mendalam.
”Jawab! Kau bisu, hah?!” Aku menyalak. Menyuruhmu membuka mulut yang sedari tadi kau katup rapat.
“I..iya…”
“Cuihhh! Kau banci! Dingin hujan mengundang lapar, kau tak lihat kukuku bergerak meminta makan?”
Kau beringsut, meraih apa saja dan melempar murka ke arahku.
Cukup! Aku merasa kaku mengulur-ulur waktu! Kau terlampau kurang ajar. Kutanyai baik-baik tapi kau mengusirku dengan kasar!
Aku menganga. Menampilkan dua taring kelabu. Liurku menetes. Dan secepat kilat aku menerkammu. Kutancapkan taring di batang tenggorokan itu penuh amarah.
Kaca jendela memantulkan kita berdua. Cermin dan keramik cerlang menampilkan wajahmu dan wajahku dalam waktu bersamaan.
Kuseruput habis darahmu.
Kau mengerang. Merintih kesakitan.
Kukoyak lehermu.
Kau diam. Tak lagi menyisakan ketakutan.
Aku belum puas. Dahulu kau menyuruh orang menggaruk janinku. Kali ini aku meminta ganti rugi. Dengan kasar kutenggelamkan kukuku mencabut jantungmu. Mungkin janinku dulu sebesar ini.
Aku memeluk jantungmu sambil mengucapkan, ”Janinku, ini ibu, Nak.”
Kuserukan kalimat itu berulang-ulang bersimbah air mata.
Kita impas sekarang. Kini, kau tahu rasanya kematian. Aku melesat pergi. Meninggalkan rumahmu dengan puas yang meluap.
V
Kulihat abu-abu di wajahmu. Sungguh, takdir tesirat di jariku yang merindu merah dan pucuk kuning kamboja.
Dengan kuda terbang kubawa janinku menghirup hawa malam.
*
Aku menatapnya. Air mataku mengalir deras saat kuciumi janinku yang dibalur merah hitam.
Kuhirup aromanya dalam-dalam. Wangi janinku begitu khas. Anyir, pucat, licin, bergetah.
Seperti asin mengundang mual-muntah. Seperti merah yang tajam menggoda.
Nak, kita ke rawa-rawa sekarang. Kan kutidurkan kau tepat di samping jasad ibu yang di buang ayahmu dulu.
Jangan takut, Nak. Meski badan ibu menggembung dirasuk air, tapi hati ibu tak berubah. Tetap sayang dan ingin mengelusmu seperti kau di perutku dulu.
Lihatlah di samping rawa-rawa, Nak.
Kubawakan serigala betina.
Kau tahu untuk apa?
Agar kau menyusu padanya.*
Ai El Afif, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Catatan:
Lelawa : kelelawar.
Jegil : menyalang, membeliak, melotot.
Berjelanak : merayap, menyelinap di bawah dedaunan dan sebagainya.
Andai saja aku dan pacarku tak berbuat dosa, pasti aku tak jadi begini. Meregang nyawa di usia 20 tahun karena pacarku memasaksaku melakukan aborsi.
I
Dengan kuda terbang aku mencarimu. Kubisikkan angin kematian agar menyepah celaka. Ingatkah kau hikayat kita? Kisah gumpal darah yang kau gugurkan. Aku ingin mengubah kisahnya. Menghadirkan merah, getah, dan malam gerhana…
*
Aku bersendawa. Tak bisa kupastikan berapa banyak bangkai tertelan. Kemarin—kalau tak salah, seratus capung, enam ribu lintah, secawan lalat, dan seribu cacing tanah melarut lambung.
Aku terserang lapar.
Kuputuskan menyantap tiga kucing hitam, semangkuk lelawa, dan sepuluh buaya rawa malam ini bersama Sang Guru di dalam gua basah.
“Berapa usiamu?” wanita berambut ular, berwajah seperempat rusak itu menatapku.
”Dua puluh.” ucapku sembari menjilat kuku, membersihkan sisa lelawa.
”Bukan usia dunia yang kutanyakan, tapi usia kematianmu. Sudah berapa lama kau menjadi hantu?” mata wanita itu menusuk tajam, seakan menyimpan dendam curam.
“Malam ini memasuki hari ke lima belas.”
” Kau menenggak racun karena putus cinta?” ia menerka. Kulihat ada nyala di matanya.
“Bukan. Aku menelan cairan pahit dari botol bergambar bintang, sepuluh menit sebelum aborsi.”
”Perempuan tolol! Kau melakukan nista. Pantas kau gentayangan!”
”Aku ingin janinku, Guru… Tapi pacar, ah pembunuh itu tak menginginkanya!”
”Kau membencinya?!”
Aku mengangguk.
”Lalu, untuk apa kau kemari?”
”Untuk berguru padamu. Aku ingin memanjangkan kuku dan dua taring kelabu.”
II
Aku bertaruh nyawa menggugurkan gumpal darah. Namun kau keras kepala! Sungguh, ingin kutampar kanan-kiri pipimu saat itu. Berharap merah itu terbit pada mata, pipi, dan bibirmu yang pecah.
*
Aku tak ingin menjadi ayah semuda ini!
Sengit mulutmu terngiang. Memantul, meletupkan murka. Entah mengapa kurindukan wajah basi dan busuk nafasmu. Ada kenikmatan bila ritual ini usai. Kan kucari kau agar benciku tuntas.
Sayang, persiapkan dirimu sekarang. Tak ada gunanya membiarkan kau berkitar menghirup nafas bumi.
Seketika liurku meruah.
Aku mendesah, menghembuskan napas kesumat.
Lima belas hari bergantung pada dinding gua, mengatup mata, membiarkan lelawa membungkus rambut, wajah dan badan mengundang lelah. Aku seperti Kristus di sini. Kedua tangan merentang, kaki terpaku rapat dan kepala tertunduk khidmat. Sementara Guru di bawah sana mendendangkan mantra kesaktian. Penuh awas menjaga nyala api dan ia hembuskan asapnya sesekali ke arahku tiap satu mantra usai.
Kurasakan tubuhku bergejolak. Rusukku ingin melesat, menembus badan.
Sebentar lagi mungkin aku menjelma penyihir atau saja Vampire. Seperti wanita dengki yang tak menginginkan Putri Salju mengalahkan kecantikannya. Pun aku begitu. Menjelma dalam kecantikan gelap, membawa apel berkilap agar lelaki yang tak bertanggung jawab itu mencicipnya. Berharap ia tertidur dalam suram abadi dan membusuk di atas pembaringan.
Tepat seperti aku yang menahan sakit saat sepasang tangan menggaruk janinku dulu.
Wahai lelaki berjakun, berdoalah sesering kau bisa. Hafalkan semua doa pengusir setan wanita. Kupastikan lelapmu membeku dan jangan berharap nasibmu serupa putri tidur. Takkan ada wanita yang sudi menciumimu dan membuat kau terbangun.
III
Harusnya kau terlahir cacat. Tak bertangan tak bermata. Sebab mata dan tanganmu mengajarkan dosa. Tiap kali mulutmu menggoda, meruapkan mantra cinta, pipi ini tersapu merah. Tangan itu yang memetik dahlia dan kau sematkan tepat di atas telinga….
Adakah ular di surga itu dahulunya kau? Yang menggoda Adam dan Hawa mengunyah apel merah?Dan memilih bereinkarnasi agar di dunia kau kembali menggoda?Kalau benar adanya, kini kucari kau dalam sepi berharap kau mati. Sebab aku bukan pendosa!
*
Rentetan kejadian itu kembali ditampilkan: pertama-taman kau berang melempar barang-barang. Mengamuk setan, menendang pintu, membanting kursi-kursi ruang tamu. Tak sampai di situ, kau menjelma Tuhan. Mengekang tenggorokan dengan dua tangan dan memaksa menelan air busa memabukkan.
Cairan pekat. Cairan pahit. Cairan menyengat.
Pusing. Pusing. Pusing. Pusing. Pusing. Pusing . Pusing. Pusing. Pusing.
Brukkk!
Aku limbung. Terjatuh dari dinding gua.
”Kau tak boleh mengingat masa lalu!” wanita berambuat ular menegurku. Diulurkan tangannya yang pucat keriput.
”Aku ingin membalas dendamku, Guru.”
”Sabarlah. Purnama sebentar lagi muncul. Taringmu pun akan timbul.”
”Bagaimana dengan kukuku, Guru?”
“Setelah kau menyantap empat gagak hutan dan kelabang kembar, barulah kukumu memanjang dan menghitam.”
”Bagaimana mendapatkan semua hewan itu?”
Tak ada jawaban di sana. Hanya terdengar lengkingan panjang. Menderik, menghantar celaka.
Angin memusar di sekitar kami. Kulihat mata guru memerah. Lalu gurat ungu, hijau, dan biru menyatu, menutup bola matanya. Kepala yang dipenuhi ular itu, menggeliat tak karuan. Lalu ia mengerang. Kedua tanganya kebas mengeluarkan darah yang menetes ke segala arah. Aku memekik. Kupikir, telah salah berguru pada perempuan berwajah seperempat rusak ini.
Ia kian gila. Menggelepar. Berkoar-koar dalam lengkingan panjang lengkingan pendek. Nafas panjang nafas pendek. Tawa panjang tawa pendek. Terdengar gema. Terdengar murka. Terdengar tawa kering-serak-sesak-basah. Panjang, memantul melengking-lengking. Lalu ia diam. Lalu Sepi. Lalu angin berhembus kembali.
Kami sehadapan. Aku mundur beberapa langkah. Berjaga-jaga dari serangan yang mungkin tak kutahu arahnya.
Wanita itu membuat cakar seperti kucing menggaruk batang pohon damar. Dengan cepat ia tempelkan tangannya di perut dan membuat sobekan menganga di sana. Aku melihatnya! Aku melihat isi perutnya yang beragam rupa. Usus menggantung, darah meruah, gumpal cacing tanah, hitam lintah, daging kucing terbungkus lendir, dan empat telur utuh juga kelabang kembar. Semua itu bercecer. Encer mencium tanah.
Kilap. Liat. Licin. Menggumpal. Amis. Anyir.
“Kau takut?” ucapnya dalam kilatan mata membara.
“….” Suaraku kering. Tercekat entah di mana.
”Kau lihat empat telur dan kelabang kembar dari isi perutku?”
Aku menggerakkan kepala ke atas ke bawah.
“Ambil keempat telur itu. Dekatkan ia pada api. Dan kelabang kembar itu, kunyahlah!”
Aku menurut. Dengan cepat kupunguti empat telur dan mendekatkannya pada api.
Terdegar kretak. Sepertinya telur ini menetas. Aku terperangah. Lamat-lamat sesuatu menyerunduk, memaksakan diri ke luar dari cangkang telur.
”Guru, telurnya…”
”Purnama telah muncul. Telur itu, berisi bayi-bayi gagak. Telan semuanya. Dan kau tutup santap malammu dengan kelabang kembar!”
Gemetar aku menyuapkan mulut ini dengan bayi-bayi gagak. Rasanya geli bukan main saat gigi dan langit-langit tersentuh mereka. Tak ada waktu untuk menguyah. Kupaksakan tenggorokan menelan dengan cepat.
Purnama bersinar. Kuraup kelabang kembar dan kulenyapkan tanpa tergerus geligi.
”Kau sudah siap. Sekarang saatnya.” Guru menarikku ke luar. Menjauh dari gua basah.
Di bawah cerlang purnama, ia meniup wajahku tiga kali berturut-turut. Aku mengerang. Mataku perih tak tertahan. Lalu, lengkingan serigala melesat dari mulutku yang kerontang.
Kuku ini memanjang kelam. Taringku lancip tersapu kelabu-hitam. Aku terguncang-guncang dilarung tawa.
”Kau murid yang harus kujaga. Tak boleh kau meninggalkanku sendiri dalam sepi tak bernyawa.”
Kami sehadapan, dengan mata saling bertukar pandang.
Guru menghembuskan napas. Dalam gerakan lamat-lamat diguncangkkan kakinya empat kali dan berubahlah ia menjadi kuda terbang berwajah seperempat rusak.
Aku terpesona.
”Naiklah, tunggangi aku dalam perjalanan dendammu.”
IV
Sekali waktu kau harus tahu. Cermin, kaca jendela, keramik cerlang kan menampakkan rupamu. Ingat cairan pahit yang kau tuangkan? Aku kembali. Telah mengasah kuku dan dua taring kelabu. Kita sehadapan. Moga kau kisut!
*Hujan tercurah. Langit memuntahkan guntur bersahut-sahutan. Kulihat kau terlelap. Nikmat memeluk guling. Dengkuran itu berirama dendam. Aku tak sabar. Gelap ini menggiurkan.
Dari kaca jendela aku mengintipmu. Jegil kedua mata melihat kau tersungkur kuyu beradu mimpi busuk. Aku tak membayangkan bagaimana caranya membangunkanmu dengan baik. Apa kusiapkan secangkir kopi yang menguarkan harum biji-bijinya dan pelan sekali kau menggeliat terjaga? Ah, itu terlalu romantis!
Bagaimana dengan cara ini: aku berjelanak di bawah karpet kamarmu sembari menenteng gelas berkaki jenjang berisi darah segar? Perlahan kuusap keningmu dan kau terbangun, memekik ketakutan, mengingat Tuhan.
Ahhh!! Terlalu lama. Tak baik membuang-buang waktu. Aku berjalan menembus dinding kamarmu. Sejenak kutatap wajahmu lekat-lekat. Sungguh manis kuku ini membuat luka di wajah itu. Dengan kasar aku menjambak selimut dan membuat kau berguling jatuh tertumbuk lantai.
Kau terbangun.
“Apa kabar, Sayang… Aku datang membawa kematian!”
Sungguh, sebuah kalimat pembuka yang indah.
”K…Ka..kau…” kau tergugu. Kalimatmu seperti anak TK mengeja kata-kata.
Ingin kusemburkan tawa sekarang.
“Iya, ini aku. Suatu kehormatan sehadapan denganmu!”
Kau menampar pipimu berulang-ulang. Menyisakan merah yang mebias persis perona pipi wanita.
”Kau sadar kalau ini bukan mimpi? Hmm.. kasurmu mengingatkan peristiwa gumpal darah. Ini kasur di mana aku ditidurkan, bukan?”
Kau terisak. Bergetar. Menampilkan ketakutam mendalam.
”Jawab! Kau bisu, hah?!” Aku menyalak. Menyuruhmu membuka mulut yang sedari tadi kau katup rapat.
“I..iya…”
“Cuihhh! Kau banci! Dingin hujan mengundang lapar, kau tak lihat kukuku bergerak meminta makan?”
Kau beringsut, meraih apa saja dan melempar murka ke arahku.
Cukup! Aku merasa kaku mengulur-ulur waktu! Kau terlampau kurang ajar. Kutanyai baik-baik tapi kau mengusirku dengan kasar!
Aku menganga. Menampilkan dua taring kelabu. Liurku menetes. Dan secepat kilat aku menerkammu. Kutancapkan taring di batang tenggorokan itu penuh amarah.
Kaca jendela memantulkan kita berdua. Cermin dan keramik cerlang menampilkan wajahmu dan wajahku dalam waktu bersamaan.
Kuseruput habis darahmu.
Kau mengerang. Merintih kesakitan.
Kukoyak lehermu.
Kau diam. Tak lagi menyisakan ketakutan.
Aku belum puas. Dahulu kau menyuruh orang menggaruk janinku. Kali ini aku meminta ganti rugi. Dengan kasar kutenggelamkan kukuku mencabut jantungmu. Mungkin janinku dulu sebesar ini.
Aku memeluk jantungmu sambil mengucapkan, ”Janinku, ini ibu, Nak.”
Kuserukan kalimat itu berulang-ulang bersimbah air mata.
Kita impas sekarang. Kini, kau tahu rasanya kematian. Aku melesat pergi. Meninggalkan rumahmu dengan puas yang meluap.
V
Kulihat abu-abu di wajahmu. Sungguh, takdir tesirat di jariku yang merindu merah dan pucuk kuning kamboja.
Dengan kuda terbang kubawa janinku menghirup hawa malam.
*
Aku menatapnya. Air mataku mengalir deras saat kuciumi janinku yang dibalur merah hitam.
Kuhirup aromanya dalam-dalam. Wangi janinku begitu khas. Anyir, pucat, licin, bergetah.
Seperti asin mengundang mual-muntah. Seperti merah yang tajam menggoda.
Nak, kita ke rawa-rawa sekarang. Kan kutidurkan kau tepat di samping jasad ibu yang di buang ayahmu dulu.
Jangan takut, Nak. Meski badan ibu menggembung dirasuk air, tapi hati ibu tak berubah. Tetap sayang dan ingin mengelusmu seperti kau di perutku dulu.
Lihatlah di samping rawa-rawa, Nak.
Kubawakan serigala betina.
Kau tahu untuk apa?
Agar kau menyusu padanya.*
Ai El Afif, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Catatan:
Lelawa : kelelawar.
Jegil : menyalang, membeliak, melotot.
Berjelanak : merayap, menyelinap di bawah dedaunan dan sebagainya.
Incoming search terms for the article:
ai el afif, sehadapan, cerpen sehadapan, Sehadapan Ai El Afif, Cerpen perempuan simpang, cerpen sehadapan ai el afif, El afif sehadapan, sahadapan ai el afif, perempuan simpang cerpen, cerpen ai el afSenin, 18 Juni 2012
Pengarang paling top sedunia
Pengarang Paling Top Se-Dunia
:yons achmad*
Seorang pengarang…
Dia sering marah terhadap segala sesuatu
dan selebihnya dia merasa tertekan.
Omongan-omongannya "dalam".
Selalu punya gagasan menakjubkan untuk dijadikan
Plot novel berikutnya
Tapi dia selalu membenci novel yang baru saja diterbitkannya…
Begitu kesan Paulo Coelho pengarang paling top se-dunia (menurut saya) saat mengawali karirnya. Dan, kemudian yakin kalau pengarang tak sepenuhnya begitu. Walau kadang ada juga yang semacam itu. Mengenai cita-cita jadi pengarang, Paulo Coelho sudah punya niat hanya jadi pengarang sejak umurnya 15 tahun.
Dia berkata pada ibunya "Aku sudah tahu panggilan jiwaku. Aku kepingin jadi pengarang."
"Sayangku," Ibunya menyahut dengan sedihnya.
"Ayahmu seorang insinyur. Dia orang yang logis, berakal sehat, dan punya visi yang jelas tentang dunia ini. Apa kau sudah tahu persis, apa artinya menjadi pengarang?"
"Menjadi orang yang menulis buku-buku."
"Pamanmu seorang dokter, dan dia juga menulis buku-buku, malah beberapa diantaranya sudah diterbitkan. Kalau kau belajar untuk menjadi insinyur, kau tetap bisa mengarang pada waktu senggangmu."
"Tidak, Mama. Aku kepingin jadi pengarang, bukan insinyur yang juga menulis buku-buku."
Itulah totalitas Paulo Coelho dalam berkarya dalam berkarir, saya mendapatkan informasi ini dari buku bagusnya "Seperti Sungai yang Mengalir". Dari sini saya paham, Paulo Coelho sudah mencintai sebuah pekerjaan yang sejak awal diyakininya bakal mampu mengantarkan keberhasilan dalam hidupnya. Dan semesta mengabarkan kalau dia memang pengarang yang bukunya laris manis di seluruh dunia saat ini.
Saya salah satu pembaca dan pengagum novel-novelnya. Yang paling saya suka novelnya yang berjudul "Diterpi Sungai Piedra: Aku duduk dan menangis". Tentu saya juga baca "Sang Alkhemis" dan novel-novel lainnya. Hanya saja, satu yang paling saya kagumi dari Paulo Coelho adalah narasinya yang dahsyat dan begitu dalam. Dia bukan tipe penulis novel yang tergesa-gesa. Tenang, tapi bisa menusuk langsung ke jantung. Dan, terkadang membuat pembacanya memutuskan untuk berbalik arah tak peduli seberapa jauh langkah yang sudah ditempuh. Agak berlebihan memang saya memujinya. Tapi sejujurnya saya katakan, memang begitulah kesan saya apa adanya.
Paulo Coelho, memang sejak kecil kepingin jadi pengarang. Tapi, semuanya itu baru angan-angan belaka. Baru pada umur 26 tahun dia mulai menekuni karir kepengarangannya itu. Tapi, itupun tak langsung terjun menulis. Paulo Coelho memutuskan untuk menempuh perjalanan yang panjang terlebih dahulu. Istilah jaman sekarang traveling. Keputusan demikian diambil setelah sebelumnya bertemu seorang yang asing pada sebuah kafe di Amsterdam. Katanya "kau mesti kembali ke jalan iman". Dan Paulo Coelho benar-benar melakukan perjalanan untuk sampai pada jalan iman itu yang disebutnya dengan Ziarah.
Setelah menuntaskan Ziarahnya tahun 1987, tepat pada umurnya yang sudah 40 tahun Paulo Coelho mulai menulis buku The Pilgrimage (Ziarah), berisi pengalaman-pengalamannya serta penemuan bahwa banyak peristiwa luar biasa terjadi dalam kehidupan orang-orang biasa. Setahun kemudian, Paulo Coelho menulis bukunya yang lain `Sang Alkhemis". Sayang, cetakan pertamanya hanya laku 900 biji saja dan penerbitnya tidak mau mencetak ulang.
Namun, Paulo Coelho tidak melepas impiannya begitu saja. Dia menemukan penerbit yang lebih besar. Menulis novel lagi yang berjudul "Brida" : Buku ini mendapat sambutan yang luar biasa dari pers dan masyarakat umum. Dan tak disangka kemudian malah menjadikan buku sebelumnya "Ziarah" dan "Sang Alkemis" diburu masyarakat dan laris manis.
Kini, selain terus menulis novel Paulo Coelho seminggu sekali menulis kolom di Koran. Dan bersama istrinya mendirikan lembaga untuk membantu masyarakat Brasil yang kekurangan. Inilah kisah tentang Paulo Coelho, penulis paling top se-dunia (menurut saya). Ada rasa bahagia tak terkira ketika cerita ini juga sampai ke "tangan" mu.
:yons achmad*
Seorang pengarang…
Dia sering marah terhadap segala sesuatu
dan selebihnya dia merasa tertekan.
Omongan-omongannya "dalam".
Selalu punya gagasan menakjubkan untuk dijadikan
Plot novel berikutnya
Tapi dia selalu membenci novel yang baru saja diterbitkannya…
Begitu kesan Paulo Coelho pengarang paling top se-dunia (menurut saya) saat mengawali karirnya. Dan, kemudian yakin kalau pengarang tak sepenuhnya begitu. Walau kadang ada juga yang semacam itu. Mengenai cita-cita jadi pengarang, Paulo Coelho sudah punya niat hanya jadi pengarang sejak umurnya 15 tahun.
Dia berkata pada ibunya "Aku sudah tahu panggilan jiwaku. Aku kepingin jadi pengarang."
"Sayangku," Ibunya menyahut dengan sedihnya.
"Ayahmu seorang insinyur. Dia orang yang logis, berakal sehat, dan punya visi yang jelas tentang dunia ini. Apa kau sudah tahu persis, apa artinya menjadi pengarang?"
"Menjadi orang yang menulis buku-buku."
"Pamanmu seorang dokter, dan dia juga menulis buku-buku, malah beberapa diantaranya sudah diterbitkan. Kalau kau belajar untuk menjadi insinyur, kau tetap bisa mengarang pada waktu senggangmu."
"Tidak, Mama. Aku kepingin jadi pengarang, bukan insinyur yang juga menulis buku-buku."
Itulah totalitas Paulo Coelho dalam berkarya dalam berkarir, saya mendapatkan informasi ini dari buku bagusnya "Seperti Sungai yang Mengalir". Dari sini saya paham, Paulo Coelho sudah mencintai sebuah pekerjaan yang sejak awal diyakininya bakal mampu mengantarkan keberhasilan dalam hidupnya. Dan semesta mengabarkan kalau dia memang pengarang yang bukunya laris manis di seluruh dunia saat ini.
Saya salah satu pembaca dan pengagum novel-novelnya. Yang paling saya suka novelnya yang berjudul "Diterpi Sungai Piedra: Aku duduk dan menangis". Tentu saya juga baca "Sang Alkhemis" dan novel-novel lainnya. Hanya saja, satu yang paling saya kagumi dari Paulo Coelho adalah narasinya yang dahsyat dan begitu dalam. Dia bukan tipe penulis novel yang tergesa-gesa. Tenang, tapi bisa menusuk langsung ke jantung. Dan, terkadang membuat pembacanya memutuskan untuk berbalik arah tak peduli seberapa jauh langkah yang sudah ditempuh. Agak berlebihan memang saya memujinya. Tapi sejujurnya saya katakan, memang begitulah kesan saya apa adanya.
Paulo Coelho, memang sejak kecil kepingin jadi pengarang. Tapi, semuanya itu baru angan-angan belaka. Baru pada umur 26 tahun dia mulai menekuni karir kepengarangannya itu. Tapi, itupun tak langsung terjun menulis. Paulo Coelho memutuskan untuk menempuh perjalanan yang panjang terlebih dahulu. Istilah jaman sekarang traveling. Keputusan demikian diambil setelah sebelumnya bertemu seorang yang asing pada sebuah kafe di Amsterdam. Katanya "kau mesti kembali ke jalan iman". Dan Paulo Coelho benar-benar melakukan perjalanan untuk sampai pada jalan iman itu yang disebutnya dengan Ziarah.
Setelah menuntaskan Ziarahnya tahun 1987, tepat pada umurnya yang sudah 40 tahun Paulo Coelho mulai menulis buku The Pilgrimage (Ziarah), berisi pengalaman-pengalamannya serta penemuan bahwa banyak peristiwa luar biasa terjadi dalam kehidupan orang-orang biasa. Setahun kemudian, Paulo Coelho menulis bukunya yang lain `Sang Alkhemis". Sayang, cetakan pertamanya hanya laku 900 biji saja dan penerbitnya tidak mau mencetak ulang.
Namun, Paulo Coelho tidak melepas impiannya begitu saja. Dia menemukan penerbit yang lebih besar. Menulis novel lagi yang berjudul "Brida" : Buku ini mendapat sambutan yang luar biasa dari pers dan masyarakat umum. Dan tak disangka kemudian malah menjadikan buku sebelumnya "Ziarah" dan "Sang Alkemis" diburu masyarakat dan laris manis.
Kini, selain terus menulis novel Paulo Coelho seminggu sekali menulis kolom di Koran. Dan bersama istrinya mendirikan lembaga untuk membantu masyarakat Brasil yang kekurangan. Inilah kisah tentang Paulo Coelho, penulis paling top se-dunia (menurut saya). Ada rasa bahagia tak terkira ketika cerita ini juga sampai ke "tangan" mu.
FF Gang Jemberak 41
Gang Jembrek Blok 41
Sudah jadi adat buat ibu-ibu bila sudah menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga seperti memasak, nyuci, bersih-bersih ngurus suami, anak, dan tugas rumah tangga yang lainnya mereka suka nimbrung ngobrol alias ngerumpi di warung gang Jembrek milik bu Meli.
Seperti biasa, seorang Ibu Rumah Tangga bernama Neli terlihat keluar dari rumahnya dan di gandengnya si Aly kecil oleh ibu muda itu menuju kesebuah warung. Suasanan warung Bu Meli masih terlihat sepi hari ini, terlihat beberapa orang saja yang mampir untuk belanja.
Ibu Aly yang akrab dipanggil Neli ini duduk dibeberapa bangku teras warung yang ada di serambi teras depan, sambil membeli beberapa barang kebutuhan Ibu Neli mengobrol dengan Ibu Meli si pemilik warung.
Awalnya obrolan itu hanya dua orang saja, Bu Meli Dan Bu Neli. Tapi kini hadir satu lagi Ibu Nira, obrolan pun berlanjut. Entah apa yang jadi tema obrolan yang jelas obrolan itu makin asyik saja dengan bertambahnya peserta ngobrol yang baru datang ia itu Ibu Sari, mereka berbicara seperti gak habis habis, entah apa topik obrolan pagi ini , yang jelas kelompok ngerumpi di warung itu selalu aktif setiap hari.
Saat aku sedang belanja beberapa barang kebutuhan di warung Bu Mela sempet aku mendengar apa yang mereka bicarakan, iya itu tentang suami dan anak-anak hingga para tetangga mereka, pastilah tuh.., membicarakan orang lain yang selalu bikin mereka asyik, tak jarang juga mereka membicarakan kekonyolan dalam keluarga sendiri. Maklumlah kadang mulut perempuan suka lepas kendali.
Pembicaraan itu jadi terhenti sejenak, saat salah satu dari mereka menyapaku
" Din..., kamu kok belanja banyak banget?" sapa Bu Nira yang sekaligus membuat semua mata mengarah kepadaku.
" Iya Bu Nira karena saya besok akan mengikuti lomba masak dan bikin kue di balai desa. Jika Ibu-Ibu tertarik untuk mengikuti lomba ini silahkan gabung saja Bu besok, acaranya juga terbuka untuk siapa saja dan hadiahnya lumayan lo.., ada Honda Jazz, motor Honda Mio dan masih banyak yang lain."
Ibu-ibu itu melongo mendengar penjelasanku.
Masak iya sih..? Tanya Bu Mela seolah tak percaya.
" Iya buk bener jika Ibu tak percaya Ibu bisa lihat sendiri besok di Balai Desa, Lomba dan pengumuman pemenangnya akan di umumkan besok, dan Honda Jazz itu akan menjadi milik pemenang jika peserta telah memenangkan lomba memasak tingkat Nasional.
" Wah..., berarti kita ketinggalan berita dong.." lanjut Bu Sari.
" Masih ada kesempatan Bu.., jika ibu ingin mengikuti lomba segera daftar saja sama Bu BalDes, " Jelasku lengkap.
" Wah...,lumayan mujur tuh bila dapet hadiah Honda Jazz.." Suara Bu Mela semangat.
" Ya.., Bu.., tapi harus melewati beberapa tahapan Bu." Lanjutku memberi penjelasan.
" Maksudnya tahapan apa ya dek Dina...?" Tanya Bu Nira penasaran.
" Ya semua itu harus melalui tahapan Bu.., gak mungkin to.., lomba masak tingkat Desa bisa meraih hadiah Honda Jazz. Hadiah tersebut untuk juara tingkat Nasional Bu, seperti yang saya bilang tadi."
Para Ibu-Ibu itu seperti hilang semangat ikut lomba setelah mendengar penjelasan saya tentang hadiah lomba, awalnya mereka semangat dan antusias sekali ingin mengikuti perlombaan, tapi setelah tahu hadiah Honda Jazz yang saya sebutkan tadi adalah untuk pemenang Nasional mereka merasa berat untuk berpartisipasi.
Setelah itu aku pergi meninggalakan tempat itu, baru melangkah beberapa langkah saja, dari dalam warung anak gadis Bu Mela mengejutkan kami.
" Bu..Bu...! Yang menang lomba masak di Desa berkesempatan mengikuti lomba tingkat nasional lo....! Dan berkesempatan memenangkan hadiah Honda Jazz dan Motor Honda Mio..!"
SEKIAN
Penulis Lissa Alissa, Akrab di panggil Lissa, tinggal di Taipei City,
Boleh hubungi Lissa di email lissa_sexxy@yahoo.com.
Sudah jadi adat buat ibu-ibu bila sudah menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga seperti memasak, nyuci, bersih-bersih ngurus suami, anak, dan tugas rumah tangga yang lainnya mereka suka nimbrung ngobrol alias ngerumpi di warung gang Jembrek milik bu Meli.
Seperti biasa, seorang Ibu Rumah Tangga bernama Neli terlihat keluar dari rumahnya dan di gandengnya si Aly kecil oleh ibu muda itu menuju kesebuah warung. Suasanan warung Bu Meli masih terlihat sepi hari ini, terlihat beberapa orang saja yang mampir untuk belanja.
Ibu Aly yang akrab dipanggil Neli ini duduk dibeberapa bangku teras warung yang ada di serambi teras depan, sambil membeli beberapa barang kebutuhan Ibu Neli mengobrol dengan Ibu Meli si pemilik warung.
Awalnya obrolan itu hanya dua orang saja, Bu Meli Dan Bu Neli. Tapi kini hadir satu lagi Ibu Nira, obrolan pun berlanjut. Entah apa yang jadi tema obrolan yang jelas obrolan itu makin asyik saja dengan bertambahnya peserta ngobrol yang baru datang ia itu Ibu Sari, mereka berbicara seperti gak habis habis, entah apa topik obrolan pagi ini , yang jelas kelompok ngerumpi di warung itu selalu aktif setiap hari.
Saat aku sedang belanja beberapa barang kebutuhan di warung Bu Mela sempet aku mendengar apa yang mereka bicarakan, iya itu tentang suami dan anak-anak hingga para tetangga mereka, pastilah tuh.., membicarakan orang lain yang selalu bikin mereka asyik, tak jarang juga mereka membicarakan kekonyolan dalam keluarga sendiri. Maklumlah kadang mulut perempuan suka lepas kendali.
Pembicaraan itu jadi terhenti sejenak, saat salah satu dari mereka menyapaku
" Din..., kamu kok belanja banyak banget?" sapa Bu Nira yang sekaligus membuat semua mata mengarah kepadaku.
" Iya Bu Nira karena saya besok akan mengikuti lomba masak dan bikin kue di balai desa. Jika Ibu-Ibu tertarik untuk mengikuti lomba ini silahkan gabung saja Bu besok, acaranya juga terbuka untuk siapa saja dan hadiahnya lumayan lo.., ada Honda Jazz, motor Honda Mio dan masih banyak yang lain."
Ibu-ibu itu melongo mendengar penjelasanku.
Masak iya sih..? Tanya Bu Mela seolah tak percaya.
" Iya buk bener jika Ibu tak percaya Ibu bisa lihat sendiri besok di Balai Desa, Lomba dan pengumuman pemenangnya akan di umumkan besok, dan Honda Jazz itu akan menjadi milik pemenang jika peserta telah memenangkan lomba memasak tingkat Nasional.
" Wah..., berarti kita ketinggalan berita dong.." lanjut Bu Sari.
" Masih ada kesempatan Bu.., jika ibu ingin mengikuti lomba segera daftar saja sama Bu BalDes, " Jelasku lengkap.
" Wah...,lumayan mujur tuh bila dapet hadiah Honda Jazz.." Suara Bu Mela semangat.
" Ya.., Bu.., tapi harus melewati beberapa tahapan Bu." Lanjutku memberi penjelasan.
" Maksudnya tahapan apa ya dek Dina...?" Tanya Bu Nira penasaran.
" Ya semua itu harus melalui tahapan Bu.., gak mungkin to.., lomba masak tingkat Desa bisa meraih hadiah Honda Jazz. Hadiah tersebut untuk juara tingkat Nasional Bu, seperti yang saya bilang tadi."
Para Ibu-Ibu itu seperti hilang semangat ikut lomba setelah mendengar penjelasan saya tentang hadiah lomba, awalnya mereka semangat dan antusias sekali ingin mengikuti perlombaan, tapi setelah tahu hadiah Honda Jazz yang saya sebutkan tadi adalah untuk pemenang Nasional mereka merasa berat untuk berpartisipasi.
Setelah itu aku pergi meninggalakan tempat itu, baru melangkah beberapa langkah saja, dari dalam warung anak gadis Bu Mela mengejutkan kami.
" Bu..Bu...! Yang menang lomba masak di Desa berkesempatan mengikuti lomba tingkat nasional lo....! Dan berkesempatan memenangkan hadiah Honda Jazz dan Motor Honda Mio..!"
SEKIAN
Penulis Lissa Alissa, Akrab di panggil Lissa, tinggal di Taipei City,
Boleh hubungi Lissa di email lissa_sexxy@yahoo.com.
Langganan:
Postingan (Atom)
